KEGELISAHAN  AL-GHAZALI

Photo

KEGELISAHAN  AL-GHAZALI

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Pada usia 33 tahun, Imam Al-Ghazali di amanahi sebagai kepala Universitas Nizamiyya di Baghdad. Beliau menjadi sosok yang berpengaruh. Bahkan, kalangan kerajaan banyak meminta pandangan saran darinya. Inilah puncak karier Imam Al-Ghazali berkat kerja kerasnya menuntut ilmu. Filsafat merupakan salah satu kajian favorit khasnya.

Tetapi, posisinya yang dalam puncak kemapanan justru memunculkan kegelisahan batin. Beliau lantas memutuskan meninggalkan Baghdad dan berkelana mencari ketenangan spiritual.

Imam Al-Ghazali menulis;

Dalam enam bulan saya dalam keadaan yang dirundung cemas luar biasa, sampai-sampai saya tak bisa bicara, makan, atau mengajar.

Saya sampai pada kesimpulan bahwa kebahagiaan di akhirat takkan bisa tanpa takwa, mengendalikan hawa nafsu. Dan semua ini hanya bisa tercapai bila kecintaan terhadap dunia di sudahi. Sampai kita mengabaikan dunia dan merindukan akhirat. Saat memikirkan diri sendiri, saya merasa begitu dekat dengan dunia. Saat saya mempelajari alasan saya mengajar, saya merasa itu semata-mata karena saya mengejar status. Saya yakin berada di pinggir jurang bahaya.

Imam Al-Ghazali meninggalkan Baghdad dan menuju Suriah pada 488 Hijriyah (1096 Masehi). Dari keputusan itulah, perjalanan spiritual dan intelektualnya kian terasah.

Di Damaskus, Imam Al-Ghazali hidup sendirian dan menghabiskan hari-hari dengan beribadah. Beliau akan menyusuri tangga naik di menara Masjid Agung Umawiyah. Di sana, ia seharian merenung dan beribadah.

Di masjid yang sama, beliau juga mengajar beberapa murid. Dua tahun kemudian, Imam Al-Ghazali bertolak ke Yerussalem dan tinggal di Kubah Batu. Lantas, ia berjalan ke Kota Khaleef di Tepi Barat.

Wallahu a’lam

Lillahi Wa Rasulihi

https://plus.google.com/collection/Mf1zRB

 

4 Perkara yang memenjarakan kita

Photo

Photo

Sebagai Proses Pembelajaran Menuju Kehambaan Diri Yang Hakiki

SEBUAH renungan tidak ada satu pun hal yang bisa memberikan manfaat bagi “jiwa” dan “hati” dari alam fana dunia ini terkecuali bisa dengan mengolahnya sesuai dengan apa yang dianjurkan dan diperintahkan oleh agama, sehingga berawal dari sebuah renungan bisa menghasilkan ibadah “tafakur” untuk senantiasa membersihkan hati bermuhasabah.

Apalagi jika keteguhan hati tersebut berawal dari sebuah proses “pembelajaran diri” sejatinya sebagai sebuah konsep renungan untuk bisa jauh lebih mengenal kehambaan diri seseorang yang selalu dituntut untuk tetap rendah hati dalam menemukan “kebersihan hati” yang sesungguhnya.

Dan makna ini rupanya lahir dari sebuah ibadah tafakur (berfikir) yang berangkat dari proses “uzlah” (pengasingan diri) dari hal-hal yang bersifat duniawi yang justru akan menjadi noda dalam menemukan seorang hamba Allah yang sejati.

القلوب مزارع فازرع فيها الكلمة الطيبة ، فإن لم تتمتع بثمرها تتمتع بخضرها ( لقمان الحكيم )

Artinya: “Hati itu seperti ladang, maka tanamlah kalimat-kalimat (ucapan) yang baik, maka kalau kamu tidak bisa mendapatkan kesenangan dari buahnya maka kamu akan mendapatkan kesenangan dari hijau daunnya.” (Lukman Hakim)

Yang memang dalam pelaksanaan “uzlah” tersebut harus dilakukan dengan sepenuh hati agar bisa menemukan jati diri dan pengakuan diri yang begitu hina, kecil, lemah bahkan tidak ada apa-apanya jika tidak dibarengi dengan rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bahkan “Imam Ahmad bin Sahl” menjelaskan kepada kita dengan berkata; “Musuhmu ada empat,” yaitu:

1. Dunia senjatanya adalah makhluk dan penjaranya adalah uzlah.
2. Syetan senjatanya adalah kenyang dan penjaranya adalah lapar.
3. Nafsu senjatanya adalah tidur dan penjaranya adalah terjaga.
4. Hawa senjatanya adalah berbicara dan penjaranya adalah diam.

Sehingga tidak ada yang lebih manfaat bagi kebehagiaan hati terkecuali bisa mengasingkannya dari hal-hal yang justru akan mengotori dan menodai kesuciannya. Untuk itulah dalam menemukan kesucian hati perlu adanya sebuah proses perjalanan salah satunya dengan memperbanyak “tafakur.” Sebab;

تفكر ساعة خير من عبادة سنة

Artinya: “Tafakur sesaat lebih baik dari pada ibadah satu tahun.” (HR. Bukhari)

Intinya berawal dari tafakur terhadap apa yang menjadi ciptaannya itu merupakan awal dari proses penemuan jati diri yang sesungguhnya, sebagaimana sebuah keterangan menyebutkan: “Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya akan mengenal Rabbnya.” Dan makna itu rupanya senada dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran : 190-191)

Untuk itu kiranya penting bertafakur dengan apa yang ada dalam diri dan di sekitar kita yang tentunya akan berbuah pada nilai ibadah, sehingga secara perlahan tapi pasti bisa menemukan makna jati diri yang sesungguhnya yang berawal dari proses pembelajaran “uzlah” itu sendiri.

Karena dengan bertafakur, manusia dapat mengetahui substansi sesuatu, dan semakin menambah makrifat mahabbah kecintaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akal sehat dan pikiran yang jernih akan membiarkan manusia memilih mana yang mashlahat dan mana yang mafsadah (kerusakan), mengetahui bujuk rayu syetan dan rendahnya kehidupan dunia ini.

Sedangkan “uzlah” akan memberi kesempatan bagi insan hamba untuk menyibukkan diri dengan kesucian hati, lidah dan perilaku, serta menghindarkan diri dari kesibukan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Uzlah yang mendorong berfikir jernih merupakan salah satu metode yang tepat untuk menuju makrifat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam mahabbah.

Sebagaimana yang tersirat dalam kajian kitab al-hikam dengan redaksinya sebagai berikut:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانُ فِكْرَةٍ.

Artinya: “Tiada sesuatu pun yang berguna bagi hati sebagaimana uzlah untuk memasuki medan perenungan.”

Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain mengasingkan diri dari dunia ramai, menuju sebuah kontemplasi, dengan tujuan menghidupkan jiwa dan mensucikan pikiran dari pengaruh-pengaruh yang merusak. Selain itu juga memikirkan semua ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di darat, laut dan udara untuk mengetahui keagungan Allah Rabb.

Dalam uzlah alam pikiran manusia akan menjadi tenang dan luas jangkauannya, wawasan berfikirnya pun bertambah, sedangkan jiwanya menjadi bersih dan tenteram. Dengan “uzlah” dan memikirkan ciptaan Allah akan memperkuat pikiran sehat, menerangi logika dengan sinar Allah kasiih-Nya, menjauhkan diri kita dari pikiran kotor dan perbuatan tercela. Cara uzlah ini sekaligus memelihara iman dan keyakinan kita serta akan membersihkan kita dari kealpaan kekhilafan dosa-dosa.

Beruzlah menggali ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam mahabbah kepada-Nya. Telah berkata Ulama Besar Makkah Al-Mukarromah pada abad ini, beliau adalah As-Syaikh As-Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasaniy; “Sampai hari kiamat kamu adalah murid.”

Wallahu A’lam
Semoga bermanfaat

Untukmu Hati

Lillahi Wa Rasulihi

https://plus.google.com/collection/Mf1zRB

Kisah Qarun Yang Binasa Di Telan Bumi

Photo

Photo

Photo

Kisah Qarun Yang Binasa Di Telan Bumi

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.” (QS. At-Taghabun : 12)

DARI Al-Qur’an yaitu kisah Qarun. Di dalam kitab suci Al-Qur’an menceritakan kisah “Qarun” yang binasa ditelan bumi bersama harta bendanya. Ia disebut dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali. Dua kali di surat Al-Qashash, satu lagi di surat Al-‘Ankabut dan satu lagi di surat Al-Ahzab.

Beberapa pendapat mengatakan “Qarun” adalah paman Nabi Musa ‘alaihissalam. Sementara pendapat lain mengatakan bahwa “Qarun” merupakan sepupu Nabi Musa ‘alaihissalam. Pendapat kedua ini mendasarkan garis keturunan berikut: Qarun adalah anak dari Yashar yang merupakan adik kandung Imran ayah Nabi Musa ‘alaihissalam. Silsilah lengkapnya adalah Qarun bin Yashar bin Qahit/Quhas bin Lewi bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim.

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tidak ada hubungan kekerabatan antara Qarun dan Nabi Musa ‘alaihissalam. Qarun hanyalah salah satu kaum Nabi Musa ‘alaihissalam yang shaleh kemudian ia berbuat ingkar sebab melampai batas dan binasa akibat keingkarannya itu.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya; “Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash : 76)

“Qarun” dikenal sebagai orang yang kekayaannya melimpah ruah. Begitu kayanya, hingga kunci-kunci gudang hartanya pun harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar karena terlalu berat untuk dibawa oleh satu orang. Meski Qarun kekayaannya sedemikian banyak, namun sebelumnya hidup Qarun sangat miskin. Bahkan ia sampai tidak mampu menafkahi anaknya yang jumlahnya sangat banyak.

Bosan dengan keadaannya, Qarun meminta Nabi Musa ‘alaihissalam untuk mendoakannya agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya harta yang sangat banyak. Nabi Musa ‘alaihissalam menyetujuinya tanpa ragu karena saat itu Nabiyullah Musa ‘alaihissalam tahu bahwa Qarun adalah seorang yang sangat shaleh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Musa ‘alaihissalam. Qarun pun akhirnya memiliki ribuan gudang harta yang penuh emas dan perak. Dalam riwayat dikisahkan bahwa Qarun pernah pamer kekayaannya. Saat itu, dia keluar dengan pakaian yang sangat mewah didampingi oleh 600 orang pelayan, 4000 pengawal, dan diiringi 4000 binatang ternak yang sehat, plus 60 ekor unta yang membawa kunci-kunci gudang kekayaannya. Namun sayang, setelah keinginannya menjadi kaya raya terwujud, Qarun malah menggunakan hartanya dalam kezaliman, sehingga membuatnya menjadi orang yang takabur, mabuk dengan kekayaannya.

Janji “Qarun” untuk lebih khusyuk beribadah dan membantu sesama setelah kaya kandas. Dia mendurhakai Allah Subhanahu Wa Ta’ala Tuhannya dan memilih untuk menyembah Sobek, dewa berkepala buaya serta dewa-dewa lainnya. Qarun tidak mengidahkan nasehat para mukmin yang memintanya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala nikmat karunia harta yang diberikan.

Namun Qarun menolak dan berkata dengan pongah, seperti dikutip dalam QS. Al-Qashash ayat 78; “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”

Tak hanya mendurhakakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dia pun mengkhianati Nabi Musa ‘alaihissalam. Suatu hari Nabi Musa ‘alaihissalam diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengerjakan zakat. Nabi Musa ‘alaihissalam lalu mengutus seorang pengikutnya mengambil zakat dari Qarun. Begitu sampai, Qarun malah marah dan tidak mau memberikan sedikitpun dari hartanya. Karena menurut Qarun, kekayaannya itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri, tidak ada kaitan dengan siapapun, termasuk dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tak berhenti sampai disitu, Qarun pun berani memfitnah Nabi Musa ‘alaihissalam. Dia mengupah seorang wanita agar mengaku telah berbuat serong dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Ketika seluruh Bani Israil berkumpul, Qarun berkata; “Wahai Bani Israil ketahuilah, Musa yang kalian anggap sebagai Nabi dan orang baik itu sebenarnya tidak demikian. Bahkan ia telah menghamili wanita ini.”

Nabiyullah Musa ‘alaihissalam sedih dan langsung berdoa agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala menampakkan kebenaran yang sesungguhnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun menunjukkan kekuasaan-Nya. Lidah perempuan yang disuruh berbohong tersebut kelu dan dia pun akhirnya mengucapkan cerita yang sebenarnya, bukan kata-kata bohong yang sudah disiapkan sebelumnya. “Musa tidak berbuat apa-apa dengan saya, dia orang baik, saya diupah Qarun untuk mengatakan bahwa saya dihamili oleh Musa.”

Mendengar itu, Nabiyullah Musa ‘alaihissalam segera sujud sebagai wujud rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 69. “Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab : 69). Tidak berhenti disitu, Qarun juga menantang Nabi Musa ‘alaihissalam. Siapa doanya yang dikabulkan, dialah yang benar dan harus diikuti. Qarun lalu berdoa; “Wahai dewa penguasa jagat, matikan Musa saat ini juga.”

Namun Nabi Musa ‘alaihissalam tetap hidup dan berdiri tegak. Nabi Musa ‘alaihissalam kemudian berdoa; “Wahai bumi, telanlah Qarun dan seluruh kekayaannya saat ini juga!” Tidak lama kemudian bumi berguncang dan seketika terbelah, sehingga tubuh Qarun dan seluruh kekayaannya habis ditelan bumi seperti didokumentasikan dalam surat Al-Qashash ayat 81;

“Maka, Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka, tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya dari azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela dirinya.” (QS. Al-Qashash : 81)

Tempat dimana Qarun dan seluruh kekayaannya dibenamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala ke dalam bumi ini kini diduga berada disebuah tempat yang dikenal dengan sebutan Danau Qarun (Bahirah Qarun). Al-Qur’an juga mengisahkan tentang Qarun didalam surat yang lain, yaitu Al-‘Ankabut ayat 39-40. “Dan (juga) Qarun, Fir’aun, dan Haman. Sungguh telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah).” (QS. Al-‘Ankabut : 39)

Setelah Allah Subhanahu Wa Ta’ala membenamkan harta kekayaan Qarun, tidak ada satu pun kekayaannya yang tersisa, selain puing-puing istananya yang diduga adalah istana yang dinamakan “Qasru el-Qarun” yang saat ini masih berdiri kokoh dipinggir Tasik Qarun, kota Al Fayyum (Fayyoum) dekat Kairo, Mesir.

Setelah menyaksikan kejadian tersebut, kala itu bertambahlah keimanan orang-orang Bani Israil kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya, kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Al-Qashash : 82), ujar mereka.

Kisah Qarun ini mengajarkan kita tentang bahaya sifat kufur, cinta dunia, takabur, dan sombong serta bangga diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan agar kita selalu bersyukur atas limpahan nikmat kekayaan yang kita miliki. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka  sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” Demikian kata Qarun seperti yang tertuang dalam ayat 78 surat Al-Qashash.

Begitu angkuhnya Qarun, sampai lupa pada umat-umat terdahulu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah binasakan sebab sibuk mengumpulkan harta benda, cinta dunia. Qarun pun membuat kagum orang-orang yang menghendaki dunia sampai-sampai mereka berharap bisa seperti Qarun, bergemilang harta. Karena kesombongan yang melampaui batas Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengazab Qarun.

“Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata; “Mudah-mudah kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar memiliki keberuntungan sangat besar.” (QS. Al-Qashash : 79)

“Tetapi orang-orang yang di anugerahi ilmu berkata; “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash : 80)

“Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash : 79)

Gempa bumi dahsyat terjadi, membuat tanah merekah dan menelan Qarun beserta seluruh hartanya hingga lenyap ditelan bumi. Sejumlah riwayat menyebutkan lokasi Qarun tenggelam ada di daerah “Al Fayyum” jaraknya sekitar 30 kilometer dari Kairo, Mesir. Di daerah itu ada danau yang dikenal dengan nama “Bahirah Qarun” sepanjang 30 kilometer dengan lebar 10 kilometer. Kedalaman danau itu sekitar 30 meter sampai 40 meter.

Danau itu di percaya sebagai titik tenggelamnya Qarun saat gempa besar terjadi. Seorang peneliti Rusydi Al Badrawy dalam bukunya “Qashash Anbiya’ wa Tarikh” menyatakan sejumlah pakar ahli geologi pernah meneliti danau tersebut. Para peneliti asal Eropa benua biru itu menyimpulkan pernah terjadi ada gempa dahsyat melanda Al Fayyum lokasi tepatnya dibagian selatan Bahirah Qarun.

“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash : 83)

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharapkan agar Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Qashash : 86)

Wallahu a’lam

📝 @ dream.co.id Jan 24, 2018 🌠

 https://plus.google.com/s/%23semangatpagi/posts

https://plus.google.com/collection/Mf1zRB

Lillahi Wa Rasulihi

Ilmu adalah jambatan Taqwa

Photo

Photo

BELAJARLAH…

Sebab ilmulah manusia itu bisa terhormat dan dimuliakan oleh Allah dan mahluk-mahluk-Nya, karena ilmu itu merupakan sarana (perantara) untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dan dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat di sisi Allah.

Seperti yang dikatakan oleh Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam syairnya;

تعلم فأن العلم زين لأهله وفضل وعنوان لكل محامد
وكن مستفيداكل يوم زيادة من العلم واسبح في بحورالفوائد
تفقه فأن الفقه افضل فائد الى البروالتقوى وأعدل قا صد
هوالعلم الهادى الى السنان الهدى هوالحصن ينجي من جميع الشدائد
فأن فقيها واحدا متورعا اشد على الشيطان من ألف واحد

“Belajarlah!!! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya, dan keutamaan dan pertanda segala pujian,
Jadikanlah hari harimu untuk menambah ilmu,dan berenanglah kamu di lautan ilmu yang berguna
Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul, ilmu yang dapat membimbing menuju jalan kebaikan dan taqwa, ilmu yang paling lurus untuk dipelajari.
Dialah ilmu yang mnunjukkan ke jalan lurus, yakni jalan petunjuk Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari keresahan,
Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara’ itu lebih berat (godaannya) daripada menggoda seribu ahli ibadah yang bodoh (dalam ilmu agama)”

https://plus.google.com/u/0/+NurulHikmah21

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Rayuan Sumbangan Ikhlas  Untuk  Umat Islam Di Selatan, Kemboja.

Dengan Segala Hormatnya Dan Dengan Penuh Takzim Kami Ingin Mengucapkan Jutaan Terima Kasih Dan Setinggi-tinggi Penghargaan Kepada Yang Dihormati Tan Sri / Dato’ Sri  / Datuk Seri / Datuk / Dato’ / Tuan / Puan/ Muslimin / Muslimat, Saudara / Saudari Yang Dirahmati Allah SWT  Sekalian Diatas Sokongan Dan Kepercayaan Yang Tidak Berbelah Bagi Kepada Pihak Kami Ihya Assunnah Solution

Markaz Umar Al-Khattab Di Kampung Som, Selatan Kemboja Dibawah seliaan Asian Faundation For Education And Developman memohon jasa baik semua pihak untuk membantu kami meningkatkan ekonomi anak-anak yatim  melalui melalui aktiviti pertanian dan penternakkan dengan menghulurkan sumbangan ke akaun bank Acleda Bank Plc No 0700 02129439 1 3 atau  Akaun Maybank Ihya Assunnah Solution 553131011505.

Sila hantar sms atau slip bank in ke talian 0199576237 Ustaz Amin AJK  Asian Faundation For Education And Developman ( wakil di Malaysia ) atau email kepada ihyaassunnah68@gmail.com atau Dr. Zahry (Pengurus Markaz Umar Al-Khattab-Kemboja) +855 88580 8813. Sila kunjungi kami di Kemboja dalam Program Melancung Sambil Beribadat Bersama Abu Muhsin (+855 88 6615107-Berbahasa Melayu). Banyak tempat menarik dan berbagai kemudahan di Kampung Som, Sihanoukville,Selatan Kemboja.

Sila kunjungi kami

https://muslimcambodiablog.wordpress.com/2017/12/29/asian-fondatiaon-for-education-and-development/

Ucapan setinggi-tinggi penghargaan kepada Jabatan Mufti Terengganu dan Majlis Perbandaran Kota Bharu-Bandar Raya Islam – MPKB-BRI ( Kelantan Malaysia ) serta semua para sahabat yang berhati mulia kerana telah banyak membantu meringankan beban umat Islam di Selatan Kemboja, melalui Ihya Assunnah Solution.