SEPULUH KEMUNGKARAN DALAM PERAYAAN TAHUN BARU

Photo

MEWASPADAI SEPULUH KEMUNGKARAN DALAM PERAYAAN TAHUN BARU

1. Kerusakan aqidah, yaitu tidak adanya sikap berlepas diri dari orang-orang kafir dan kesesatan mereka, seperti hari raya mereka dan ritual atau acara mereka.

2. Dosa terbesar, yaitu syirik dan kekafiran, apabila seseorang mengikuti atau menyetujui hari raya orang kafir disertai dengan keridhoaan atau persetujuan terhadap agama mereka, contohnya setuju dengan keyakinan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam yang mereka sebut Yesus adalah anak Allah yang dilahirkan atau setuju dengan penyembahan mereka kepada beliau, maka siapa yang menyetujuinya dia kafir seperti mereka, berdasarkan kesepakatan ulama.

3. Bid’ah, menambah perayaan hari besar selain Idul Fitri dan Idul Adha, sama saja apakah merayakanya dengan hura-hura atau dengan dzikir, doa dan istighotsah yang dikhususkan pada hari tersebut, padahal tidak ada dalil yang mengkhususkannya, bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang semua perayaan hari besar selain Idul Fitri dan Idul Adha.

4. Tasyabbuh, menyerupai orang-orang kafir dalam merayakannya, berpesta pora, berpakaian seperti mereka, meniup terompet, saling memberi hadiah, memberi diskon penjualan, ucapan selamat dan libur kerja karena momen Natal atau Tahun Baru dan lain-lain.

5. Kerusakan akhlak, diantaranya membuka aurat, campur baur laki-laki dan wanita, pacaran hingga perzinahan, semakin marak di malam Tahun Baru.

6. Pemborosan dan penyia-nyiaan harta dengan berpesta pora, membeli petasan, rokok, khamar dan lain-lain.

7. Membahayakan diri dan mengganggu kenyamanan orang lain dengan menyalakan petasan, kembang api, suara gaduh nyanyian dan musik, memacetkan jalan dan lain-lain.

8. Begadang malam menunggu momen pergantian tahun hingga terlambat bangun sholat Shubuh, bahkan tidak sholat sama sekali, padahal meninggalkan sholat termasuk kekafiran.

9. Lagu-lagu, nyanyian dan musik, padahal hukumnya haram menurut empat mazhab.

10. Menyia-nyiakan waktu dengan perbuatan yang tidak bermanfaat, bahkan membahayakan, dan lupa dengan kematian.

Baca Selengkapnya: https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/916911495125000

═══ ❁✿❁ ═══

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam ⤵

📮 Join Telegram: http://goo.gl/6bYB1k

SIAPAKAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH…?

Photo

SIAPAKAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH…?

Bismillah..

🍃Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?

Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat. Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)

Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya. Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).

Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.

Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:

Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja.
Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan (hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga dengan label-label kelompoknya.
Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).

Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:

Beriman kepada takdir Allah,
Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,
Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,
Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,
Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,
Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau
Beriman bahwa Dajjal akan muncul,
Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,
Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,
Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir (banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,
Tidak memberontak kepada penguasa muslim,
Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,
Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.
Jangan salah membatasi

Imam Al Barbahari berkata: ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.

Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan: ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’. Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata: ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’. Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’. Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’. Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.

Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya ”Sesungguhnya

3 Telaga Pelebur Dosa

Photo

Telaga pelebur dosa

Ulama tersohor yang dikenang dengan ” dokter hati”, yaitu Ibnu Qoyyim 8-9 H. Ibnu Qoyyim dalam kitab riyadussholihin mengatakan :
“di dunia ada 3 telaga, barang siapa yang mandi di telaga di dunia, maka ia tidak akan mandi  di telaga neraka untuk menghapus dosa-dosanya.”

Apa 3 telaga itu:

1.Telaga taubat nasuha, rasulullah tidak kurang setiap hari 100 kali mohon ampun..bagaimana dengan kita??? Sudahkah kita setiap hari mohon ampun kepada Allah?? Taubat akan membersihkan dosa dan kesalahan

CARA TAUBAT NASUHA

Taubat nasuha adalah kembalinya seseorang dari perilaku dosa ke perilaku yang baik yang diperintahkan Allah. Taubat nasuha adalah taubat yang betul-betul dilakukan dengan serius atas dosa-dosa besar yang pernah dilakukan di masa lalu. Pelaku taubat nasuha betul-betul menyesali dosa yang telah dilakukannya, tidak lagi ada keinginan untuk mengulangi apalagi berbuat lagi, serta menggantinya dengan amal perbuatan yang baik dalam bentuk ibadah kepada Allah dan amal kebaikan kepada sesama manusia.
Dosa ada dua macam: dosa pada Allah saja dan dosa kepada Allah dan manusia (haqqul adami).
Cara tobat karena dosa pada Allah cukup meminta ampun kepada Allah sedang menyangkut kesalahan pada sesama manusia harus meminta maaf langsung kepada orang yang bersangkutan di samping kepada Allah.

Seorang muslim wajib bertaubat nasuha atas dosa yang dilakukannya.

2.Telaga amal saleh.
Allah berfirman dalam alqur’an surat al furqan ayat 70. Penjelasan surat ini tentang dosa akan dihapuskan dengan amal saleh

Amal saleh (shalih, soleh) adalah perbuatan baik dalam pandangan Islam. Amal saleh akan mengundang rahmat Allah SWT dan mendatangkan rasa damai dalam jiwa

SUNGGUH beruntung dan berbahagia orang-orang yang mampu menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang saleh (‘ibadillah ash-sholihin).

Betapa tidak, setiap hari mereka disebut dan didoakan dalam sholat kaum Muslimin, termasuk diri mereka sendiri, dengan doa tahiyat “semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh” (assalamu ‘alaina wa’ala ‘ibadillahish sholihin).

Bagi kaum mukmin, menjadi hamba Allah yang saleh (beramal saleh) merupakan keniscayaan. Amal saleh merupakan buah keimanan. Tidak sempurna iman seseorang jika tidak diikuti dengan amal saleh.

Dalam Al-Quran, kata iman hampir senantiasa digandengkan dengan kata amal saleh, seperti dalam QS. Al-Ashr:2, “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”.

Dalam surat tersebut ditegaskan, orang yang tidak akan merugi hanyalah mereka yang beriman dan beramal saleh –serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Contoh lain dalam QS. Ath-Thin: 6:

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Pengertian Amal Salih

Secara sederhana, amal saleh (shalih) adalah perbuatan baik, yakni perbuatan yang diwajibkan, disunahkan, dan dibolehkan dalam ajaran Islam. Perbuatan itu menimbulkan manfaat dan kebaikan bagi dirinya dan orang lain.

Amal saleh juga adalah perbuatan menjauhkan diri dari amal yang haram atau dilarang oleh Allah Swt. Amal salehlah satu-satunya modal dan bekal untuk hidup selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat kelak.

Kata saleh (sholih) berarti kebaikan atau “tiadanya/terhentinya kerusakan”, kebalikan dari kata fasid (rusak). Saleh juga diartikan sebagai “bermanfaat dan sesuai”.

Amal saleh adalah perkejaan yang jika dilakukan, maka suatu kerusakan akan terhenti atau menjadi tiada; atau bisa juga diartikan sebagai suatu pekerjaan yang dengan melakukannya diperoleh manfaat dan kesesuaian (Quraish Shihab, 1997:480).

Syekh Muhammad Abduh mendefinisikan amal saleh sebagai “segala perbuatan yang bermanfaat bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan”. Ahli tafsir Az-Zamakhsyari mengartikan amal saleh sebagai “segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, Al-Quran, dan atau sunnah Nabi Muhammad Saw”.

Jenis-Jenis Amal Salih

Secara etimologis, amal saleh adalah segala perbuatan yang tidak merusak atau menghilangkan kerusakan. Amal saleh juga adalah perbuatan yang mendatangkan manfaat bagi diri dan orang lain.

Dari pengertian itu kita bisa memahami, mengapa Rasulullah Saw menyebutkan dalam haditsnya, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Amal saleh tidak mendatangkan kerusakan, baik secara fisik maupun mental.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda: “Mendamaikan dua orang yang berselisih secara adil, membantu seseorang untuk menaiki hewan tunggangannya atau memuat barang-barangnya ke atas hewan tersebut, ucapan yang baik, menyingkirkan rintangan di jalan, tersenyum pada sesama, dan berhubungan intim dengan istri/suami adalah amal saleh”.

Hadits tersebut kian menjelaskan, amal saleh adalah amal yang mendatangkan manfaat dan menghindarkan kerusakan. Mendamaikan orang berselisih jelas mematikan potensi kerusakan yang ditimbulkan akibat permusuhan –peperangan, aksi kekerasan, penghancuran, dan lain-lain. Perselisihan selalu berpotensi mengundang nafsu merusak lawan.

Menolong orang lain termasuk amal saleh. Manfaatnya bisa dirasakan juga oleh dirinya sendiri. Nabi Saw bersabda, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama si hamba suka menolong saudaranya”.

Al-Quran menyebutkan dua jenis pertolongan yang dibenarkan, yakni “saling tolong dalam kebaikan dan takwa” (‘alal birri wat taqwa), dan dua jenis pertolongan yang tidak dibenarkan, yakni “saling bantu dalam permusuhan dan perbuatan dosa” (‘alal itsmi wal ‘udwan).

Amal saleh tidak semata-mata diartikan perbuatan baik, tetapi merupakan perbuatan baik yang dilandasi iman, disertai niat yang ikhlas karena Allah (bukan karena riya’ atau ingin mendapat pujian orang lain), pelaksanaannya sesuai dengan syariat, serta dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Amal saleh akan mengundang rahmat dan berkah Allah SWT, juga mendatangkan rasa damai dalam jiwa dan pertolongan-Nya tanpa terduga. Sebaliknya, “amal salah” (maksiat) akan mendatangkan keresahan dalam hati dan menjauhkan rahmat dan pertolongan-Nya.

Amal Salih Wujud Keimanan

Setiap mukmin tentunya senantiasa berusaha melakukan amal saleh sebagai manifestasi keimanannya. Apalagi makna hakiki iman adalah “mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati, dan mengamalkan dengan amal perbuatan” (ikrarun bil lisan, tashdiqun bilqolbi, wa ‘amalun bil arkan).

Setiap mukmin juga harus senantiasa waspada terhadap hal-hal yang merusak amal saleh, misalnya dengki (hasad) yang digambarkan Rasulullah bisa merusak amal “sebagaimana api melalap kayu bakar”.

Rasulullah Saw dalam sebuah hadistnya menyebutkan beberapa sifat atau sikap yang dapat merusak amal saleh (tuhbitul amal).

Pertama, sibuk mengurus kesalahan orang lain (istighalu bi uyubil khalqi). Mencari-cari dan membuka aib atau kesalahan orang lain termasuk akhlak tercela yang merusak amal saleh yang telah diperbuat.

Kedua, keras hati (qaswatul qulub). Kondisi keras hati akan menimpa seorang mukmin jika dirinya tidak dapat menghindar sifat-sifat buruk seperti riya, takabur dan hasud. Termasuk keras hati adalah tidak mau menerima kebenaran dan nasihat baik.

Ketiga, cinta dunia (hubbud dunya), yakni menjadikan harta dan kedudukan atau hal duniawi lainnya –seperti pujian dan popularitas– sebagai tujuan, bukan sarana.

Keempat, tidak punya rasa malu (qillatul haya) sehingga merasa ringan dan tanpa beban saja ia melanggar aturan Allah (maksiat). Setiap mukmin pasti punya rasa malu, karena malu memang sebagian dari iman (hadits), utamanya malu kepada Allah Swt. Rasa malu akan mendorong perbuatan baik. Sebaliknya, ketiadaan rara malu akan mendorong orang berbuat sekehendak hati tanpa mengindahkan syariat-Nya.

Kelima, panjang angan-angan (thulul amal), yakni sibuk berangan-angan, berkhayal, tanpa usaha nyata.
Keenam, berbuat aniaya (dzalim), yakni perbuatan yang mendatangkan kerusakan bagi diri sendiri dan orang lain, tidak proporsional, dan melanggar aturan. Berbuat dosa termasuk aniaya, yakni aniaya terhadap diri sendiri (dholimu linafsih).

Semoga kita senantiasa berusaha dan diberi hidayah oleh Allah untuk menjadi pelaku amal saleh. Amin! Wallahu a’la

3.Telaga musibah. Dalam surat az-zumar ayat 10 ” sesungguhnya orang yang bersabar, mendapat pahala tanpa batas”.syukur saat musibah menambah pahala bagi yang sabar menghadapinya

Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah

Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan merpakan sunatullah

Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.

Allâh Ta’ala berfirman:

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:

“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]

Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu
(Qs at-Taghâbun/64:11)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.

Ketiga telaga itu adalah telaga yang menyejukkan hati , sehingga selamat hidup didunia dan akhirat. Amin

Nabi Adam atau Zaman Purba dahulu ?

Photo

MANAKAH YANG LEBIH DAHULU, NABI ADAM ALAIHI SALAAM ATAU MANUSIA PURBA?

PERTANYAAN :
Manakah yang lebih dulu ada di bumi? Manusia purba atau Nabi Adam ‘alaihi salaam?. Mohon penjelasannya.

JAWABAN :
Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kita harus membenarkan semua yang diberitakan oleh Al Qur’an dan Sunnah, Bila ada informasi/teori yang bertentangan dengan keduanya, maka kita harus tolak, walaupun hal itu dianggap ‘teori ilmiah’.

🔴 Allah mengabarkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai manusia yang sempurna dari semula, bukan manusia purba yang bentuknya mirip kera. Oleh karenanya, semua pendapat yang mengarah kepada adanya manusia purba yang tidak sama dengan manusia yang dikisahkan oleh Al Qur’an dan Sunnah, harus kita anggap sebagai kedustaan dan kebatilan, serta haram dibenarkan. Karena membenarkan pendapat tersebut konsekuensinya mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

🔴 Simaklah bagaimana Allah menyifati manusia dalam surah Al ‘Alaq sebagai makhluk dalam bentuk yang sebagus-bagusnya. Coba bandingkan bentuk manusia purba dengan manusia yang sebenarnya, manakah yang sesuai dengan kriteria ayat tersebut? Jelas manusia biasa seperti kita-kita inilah yang sesuai dengan kriteria ayat tersebut, karena bila kita perhatikan, bentuk manusia purba sangatlah buruk mirip kera.

Ini dari sisi wahyu yang kebenarannya 100% dan menjadi rujukan pertama dan terakhir kita dalam menyaring suatu keyakinan. Adapun dari sisi ilmu pengetahuan, teori ttg adanya manusia purba telah lama terbantahkan secara ilmiah, karena sebenarnya teori manusia purba itu berangkat dari teori darwin ttg evolusi, dan ini 100% batil menurut ilmu pengetahuan, apalagi menurut Al Qur’an.

Bukti kebatilan teori evolusi tersebut ialah karena makhluk hidup awalnya adalah sel tunggal yang beradaptasi menjadi tiga macam makhluk, yaitu manusia, hewan, dan tumbuhan. Hewan pun berubah-ubah bentuknya dari yang sangat sederhana seperti mikroorganisme menjadi yang kompleks seperti manusia dan binatang-binatang lainnya. Jerapah bisa punya leher yang panjang, ialah karena ia berusaha memakan dedaunan di ranting yang tinggi, begitu kata Darwin yang kafir(non islam) tersebut.

Artinya, jerapah punya leher panjang karena latihan menjulurkan lehernya. Nah, teori batil ini dibantah habis oleh ilmu genetika yang membuktikan bahwa sesuatu yang didapat karena latihan tidak bisa diturunkan kepada anak cucu secara langsung.

Yang bisa diturunkan langsung ialah sifat-sifat genetik. Contoh sederhananya, seorang binaragawan yang memiliki tubuh berotot karena latihan fitness, tidak mungkin memiliki bayi yang berotot seperti dia… karena otot tersebut didapat akibat latihan. Nah, mestinya kalau teori Darwin itu benar, maka induk jerapah tidak boleh melahirkan bayi jerapah dengan leher panjang.. sebagaimana si binaragawan tdk mungkin memiliki bayi yang berotot seperti dirinya.

KESIMPULANNYA : manusia pertama adalah Adam Alaihissalaam yang bentuknya sudah sempurna seperti manusia hari ini, hanya saja posturnya jauh lebih tinggi dari kita, yaitu 60 hasta sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah. Bukan seperti manusia purba atau makhluk lainnya. Apa yang diklaim sebagai manusia purba, kalau memang benar-benar ada, maka itu bukanlah manusia, namun hewan lain yang kita tidak perlu tahu dan tidak ada manfaatnya menurut syariat untuk diselidiki.

Wallahu a’lam.

__________________

👤 Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, Lc, MA

📚 bimbinganislam.com

🌐 Telegram : @shahihfiqih – bit.ly/1S3K8sW