Semua kiriman oleh Penyucian Jiwa

Perbaikilah Dirimu Sebelum Memperbaiki Anakmu

Perbaikilah Dirimu Sebelum Memperbaiki Anakmu

Di Tulis Oleh : Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc hafidzahallah

( Nasehat bagi Para Orangtua & Guru )

Hendaknya perkara yang pertama engkau lakukan untuk memperbaiki anakmu, adalah dengan memperbaiki dirimu dahulu …

Karena pandangan anak-anak terkait kepada dirimu …

“Kebaikan” menurut mereka adalah apa-apa yang engkau lakukan …

“Keburukan” menurut mereka adalah apa-apa yang engkau tinggalkan …

( Nasehat ‘Amr bin ‘Utbah kepada Guru putranya ) “Al-Adab” li Ibn Muflih.

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah
Advertisements

Menolong dalam Maksiat Dihitung Maksiat

Menolong dalam Maksiat Dihitung Maksiat

Menolong dalam Maksiat Dihitung Maksiat

Barangsiapa menolong dalam yang haram atau dalam berbuat dosa, maka ia dihukumi sama dalam melakukan maksiat. Ini kaedah yang telah disimpulkan dari Al Qur’an dan hadits.

Dalil Pendukung

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“ Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al Maidah: 2).

Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat.

Dalam hadits juga disebutkan :

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“ Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” ( HR. Muslim no. 1017 ).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “ Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang memberi petunjuk pada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. Aliran pahala atau dosa tadi didapati baik yang memberi petunjuk pada kebaikan atau kesesatan tersebut yang mengawalinya atau ada yang sudah mencontoh sebelumnya. Begitu pula aliran pahala atau dosa tersebut didapati dari mengajarkan ilmu, ibadah, adab dan lainnya.”

Sedangkan sabda Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “ Lalu diamalkan oleh orang setelah itu“, maka maksudnya adalah ia telah memberi petunjuk (kebaikan atau kesesatan) lalu diamalkan oleh orang lain setelah itu ketika yang contohkan masih hidup atau sudah meninggal dunia. Demikian penjelasan Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits di atas.

Intinya, dua dalil di atas menunjukkan dengan jelas bahwa siapa saja yang memberi petunjuk pada kejelekan, dosa atau maksiat, maka ia akan mendapatkan aliran dosa dari orang yang mengikutinya. Ini sudah jadi cukup bukti dari kaedah yang dibahas kali ini, yaitu siapa yang menolong dalam maksiat, maka terhitung pula bermaksiat.

Penerapan Kaedah

1- Siapa yang memberi petunjuk pada saudaranya untuk membunuh muslim lainnya dengan tindakan zalim, maka ia terhitung bermaksiat karena telah menolong dalam tindakan zalim.

2- Siapa yang memberi petunjuk pada orang lain untuk mencuri suatu barang, maka ia terhitung pula melakukan maksiat karena telah menolong dalam tindakan mencuri.

3- Menerbitkan dan menyebarluaskan buku-buku kesesatan yang berisi ajaran kesyirikan, bid’ah, maksiat, sihir, perdukunan, klenik, ramalan, maka teranggap berbuat maksiat.

4- Menyewakan toko pada orang yang diketahui akan menjual khomr (minuman keras), maka pemilik toko tersebut dihitung pula melakukan maksiat karena telah menolong dalam tindakan maksiat.

Hanya Allah yang memberi hidayah dan petunjuk.

https://seindahsunnah.com/hukum-islam/menolong-dalam-maksiat-dihitung-maksiat/
__________
Referensi:

Al Haram fii Asy Syari’ah Al Islamiyah, Dr. Qutb Ar Risuni, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah
_______________________
Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
_______________________
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654

Mohon konfirmasi setelahnya ke : Email : seindahsunnah@gmail.com atau Facebook Seindah Sunnah

Kunci Mengatasi Konflik Dalam Rumah Tangga

Kunci Mengatasi Konflik Dan Problem Dalam Rumah Tangga

Nasehat Syaikh Muhammad bin Mukhtar Asy-Syinqithiy hafidzahullah

Oleh karena itu, Bersemangatlah melaksanakan shalat-shalat Sunnah di rumah. Itulah diantara tujuan sunnah Nabi.

Rumah yang banyak dilakukan shalat di dalamnya, maka Allah akan menjadikan didalamnya kebaikan yang banyak. Hal ini banyak diperbincangkan para ulama dan orang-orang shalih.

Sebagian orang mengeluhkan di rumahnya selalu ada masalah.

Dia bercerita, “ Kemudian aku mendatangi salah seorang ulama dan beliau bertanya kepadaku tentang shalat malam & shalat rawatib .”

Ulamapun bertanya, “ Apakah engkau termasuk orang yang menyia-nyiakan shalat sunnah rowatib ?

Jawab orang tadi, “Ya benar.”

Rawatib maksudnya shalat sunnah yang dikerjakan sesudah atau sebelum shalat fardhu.

Ulama tersebut bertanya lagi, “ Apakah engkau juga tidak shalat witir? ”

Jawabannya, “Benar aku juga tidak shalat witir.”

Ulama tersebut berkata, “ Kalau begitu Rutinkan shalat sunnah Rawatib dan tunaikan seperti Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menunaikan shalat tersebut di rumahmu. Begitupula rutinkan shalat witir jangan pernah engkau tinggalkan.”

الْوِتْرُ حَقٌّ، فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَمِنَّا

“ Al-Witir itu adalah kebenaran, Barangsiapa yang tidak shalat WITIR maka bukan golongan kami.” ( HR. Ahmad dan Abu Daawud. Dinilai shahih oleh Al-Hakim )

يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوْا فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“ Wahai Ahlul Qur’an, shalat witirlah kalian karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu witir (Maha Esa) dan mencintai orang-orang yang melakukan SHALAT WITIR ”

لَقَد أَمَدَّكُم اللَّه بِصَلاَة هِي خَيْر لَكُم مِن حُمْر النَّعَم” قُلْنَا : وَمَا هِي يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ : الْوِتْر، فِيمَا بَيْن صَلاَة الْعِشَاء إِلَى طُلُوع الْفَجْر.*

“ Sungguh Allah telah melengkapi kalian dengan suatu shalat yang lebih baik dari UNTA MERAH.”

Para sahabat bertanya,“ Shalat apakah itu wahai Rasulullah ?”

Beliau shallallahu’alaihi wasallam menjawab,“ Shalat Witir yang dikerjakan antara waktu ‘Isya dan terbit fajar.

Kemudian subhanallah dalam waktu satu minggu, tiba-tiba di rumahnya keadaan berubah SEMPURNA; Akhlak Istri berubah, Anak-anak mudah diarahkan. Semua PERKARA telah BERUBAH.

Karena apa ?

فإن الله جاعل له في بيته من صلاته خيراً

“ Maka Allah jadikan baginya di rumahnya banyak KEBAIKAN dari SHALAT yang dia lakukan.”( HR. Muslim no.778 )

KHAIRAN dalam hadis ini bentuknya NAKHIROH (umum) mencakup semua KEBAIKAN.

Jika Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan bahwa didalamnya ada KEBAIKAN pasti ada KEBAIKAN.

Sungguh apa yang beliau sabdakan adalah KEBENARAN. Dan tidaklah beliau berucap mengikuti HAWA NAFSU, sesungguhnya itu adalah WAHYU yang diturunkan.

Wallallahua’lam bishshowab.

Sumber: Channel Duror Asy Syaikh Muhammad hin Mukhtar Asy Syinqithi

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah
_______________________
Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
_______________________
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654

Mohon konfirmasi setelahnya ke : Email : seindahsunnah@gmail.com atau Facebook Seindah Sunnah

Mengapa Allah Menikahkanmu Dengannya

Mengapa Allah menikahkanmu Dengannya

Mungkin suamimu tak pandai berkata, Apalagi merayu dengan romantisme karya sastra, Tapi mungkin dengan cara itulah Allah menjaga lisannya, menjauhkannya dari fitnah dunia yang tak halal baginya.

Mungkin saja suamimu tak pandai berkata, tapi heningnya menahan kita banyak bicara, Memutus rantai kalimat sanggahan yang melahirkan perkara, Sehingga keseimbangan suasana lebih terjaga. Andai saja Allah ciptakan sebaliknya, mungkin rumahmu sekarang jadi arena tarung laga. Itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya.

Mungkin istrimu tidak berparas mempesona, apalagi secantik selebritis di warta berita. Tapi mungkin lisannya selalu berucap kata mutiara, yang terpancar dari jiwa yang terjaga. Andai saja Allah menciptakan yang sebaliknya, mungkin hatimu tak tenang saat jauh darinya.

Itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya, mungkin suamimu bukanlah saudagar kaya, yang membawa pulang limpahan laba hasil usaha. Namun meskipun besarnya begitu sederhana, mungkin ia selalu menjaga kehalalan apa yang di bawa.

Mungkin suamimu bukanlah pejabat yang bertahta, yang di hormati dan di puja bawahannya, tapi mungkin di balik kedudukannya yang biasa, ia mampu menjaga iman bagi keluarga. Andai saja Allah menciptakan yang sebaliknya, mungkin belum tentu ia memiliki derajat taqwa.

Mungkin istrimu bukanlah koki istimewa, yang memasakannya selezat pujasera, tapi mungkin ia pandai mendidik buah hatinya, memahat pribadi yang berkakter mulia.

Mungkin istrimu bukanlah koki istimewa, yang terkadang masakannya itu-itu saja, tapi mungkin ia pandai mengatur alokasi harta, sehingga pemberianmu tidak terhambur percuma. Andai saja Allah menciptakan yang sebaliknya, mungkin kecintaanmu akan terlalu berlebih padanya, melebihi cintamu kepada Allah sang pemberi karunia.

Mungkin suamimu tak pandai terlibat merawat anaknya, sehingga terlihat kau melakukan semuanya, tapi mungkin ia sabar membantumu meringankan pekerjaan rumah tangga, sehingga terlaksana dengan kerja sama.

Mungkin suamimu tak pandai terlibat merawat anaknya, sehingga terlihat minim perannya dalam keluarga, mungkin ia sangat keras bekerja, sehingga nafkah telah cukup terpenuhi lewat darinya. Andai saja Allah menciptakan yang sebaliknya, mungkin para gadis menanti dipinang menjadi yang kedua.

Jika suamimu terlalu sempurna, itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya. Mungkin istrimu tak mahir dalam mengurus rumah tangga, menambah sedikit tugasmu dalam membantunya bekerja, tapi mungkin ia begitu taat dalam beragama, membimbing anak-anak dalam syariat agama, sehingga meringankan kewajibanmu dalam membimbing keluarga. Andai saja Allah meciptakan yang sebaliknya, mungkin engkau merasa tugasmu telah tertunai sempurna, cukup sekedar menyempurnakan nafkah keluarga.

Itulah mengapa Allah menikahkanmu dengannya, maka temukanlah sebanyak-banyaknya rahasia di baliknya, agar engkau mengerti mengapa Allah menikahkan mu dengannya. Jikalau engkau masih sulit menemukan jawabannya, gantilah kacamatamu dengan kacamata syukur atas segala karunia, adalah hakmu jika engkau berharap khadijahmu menjadi lebih sempurna, Asalkan engkau siap membimbingnya dengan menjadi muhammad baginya.

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah
_______________________
Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
_______________________
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654

Mohon konfirmasi setelahnya ke : Email : seindahsunnah@gmail.com atau Facebook Seindah Sunnah