Larangan menyerupai binatang dalam solat

 

Photo

Larangan menyerupai binatang dalam solat

Bagaimanakah gerakan-gerakan yang menyerupai gerakan binatang tersebut ? Berikut perinciannya:

1. Larangan Turun Sujud Seperti Turunnya Onta.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasûlullâh saw bersabda,
“Jika seseorang dari kamu sujud, maka janganlah ia turun sujud sebagaimana mendekamnya onta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”.

HR Abu Dawud, no. 840;
Nasa-i, juz 2 hlm. 207;
Ahmad, 2/381; dan lain-lain.
Dishahîhkan oleh Imam Nawawi, Zarqani, ‘Abdul-Haq al-Isbili, Syaikh Ahmad Syakir

Perintah turun sujud dengan mendahulukan kedua tangan ini merupakan sabda Nabi Muhammad saw  juga perbuatan beliau sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar ra

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: أَنَّهُ كَانَ يَضَعُ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ . وَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ ذَلِكَ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa ia biasa meletakkan dua tangannya sebelum dua lututnya.
Dan ia mengatakan,
Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.”

HR Bukhari secara mu’allaq, dan diwashalkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan lainnya. Syaikh Salim al-Hilali berkata,
Sanadnya shahîh”. Lihat Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah, juz 1 hlm. 517.

Adapun hadits Wail bin Hujr ra yang memberitakan bahwa ia melihat Rasûlullâh saw turun sujud dengan meletakkan dua lututnya sebelum dua tangannya, maka hadits ini dha’if (lemah).
Demikian juga anggapan bahwa matan (isi) hadits Abu Hurairah di atas maqlub (terbalik) adalah tidak benar.

Lihat Nahyu Shuhbah, karya Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, dan Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah, juz 1 hlm. 516-520 karya Syaikh Salim al-Hilali.

2. Larangan Menghamparkan Tangan Seperti Binatang Buas

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ

Dari Anas bin Malik, dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda,
Seimbanglah di dalam sujud, dan janganlah seseorang dari kamu menghamparkan kedua lengannya sebagaimana terhamparnya (kaki) anjing”.
[HR al-Bukhâri, no. 822, dan Muslim, no. 493].

Hadits ini merupakan dalil larangan menghamparkan dua lengan pada waktu sujud, yaitu meletakkan dua lengan di tanah (lantai atau tempat sujud, Pen).

Sunnah Nabi  Muhammad saw mengajarkan untuk mengangkat dua lengan (ketika sujud), sedangkan yang diletakkan di tanah adalah dua tapak tangannya.

Orang yang shalat dilarang melakukan itu, karena keadaan itu adalah keadaan atau sifat orang yang malas.

Sementara orang yang sedang shalat dituntut berada dalam keadaan paling bersemangat dan menghindakan diri dari semua keadaan yang menimbulkan kemalasan dalam semua rukun-rukun shalat.

Disamping juga, keadaan itu menyerupai binatang buas dan anjing.
Adalah suatu yang tidak pantas bagi manusia yang telah dimuliakan dan diutamakan oleh Allâh swt menyerupai binatang, apalagi dalam keadaan shalat.

Syarh Bulughil-Maram,

3. Larangan Menoleh Seperti Musang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَنَهَانِي عَنْ ثَلَاثٍ أَمَرَنِي بِرَكْعَتَيْ الضُّحَى كُلَّ يَوْمٍ وَالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَنَهَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الْكَلْبِ وَالْتِفَاتٍ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasûlullâh saw memerintahkan aku dengan tiga perkara dan melarangku dari tiga perkara. Memerintahkan aku untuk melakukan shalat dhuha dua raka’at setiap hari, witir sebelum tidur, dan puasa tiga hari dari setiap bulan.

Melarangku dari mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq’â seperti duduk iq’â anjing, dan menoleh sebagaimana musang menoleh.”

HR Ahmad, juz 2 hlm. 311, no. 8044;
Abu Ya’la, 2619; al-Baihaqi, juz 2, no. 120.
Syaikh Salim berkata, “Hasan dengan jalan-jalannya”, 527-528.

Nabi Muhammad saw juga bersabda :

لَا يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْهُ

Allâh senantiasa berada di hadapan seorang hamba ketika ia sedang shalat, selama ia tidak menoleh. Jika ia menoleh, maka Allâh berpaling darinya.

[HR abu Daud,

Perumpamaan orang yang menoleh di dalam shalatnya dengan pandangan matanya atau hatinya (ialah) seperti seseorang yang dipanggil oleh seorang raja. Raja tersebut mendudukkan orang itu di hadapannya, mulai menyerunya, dan berbicara kepadanya.
Namun pada saat itu orang tersebut menoleh ke arah kanan dan kiri dari sang raja.
Hatinya juga berpaling dari sang raja, sehingga ia tidak memahami pembicaraan sang raja.
Maka apakah perkiraan orang itu terhadap tindakan raja kepadanya.
Bukankah tingkatan paling rendah, ia akan meninggalkan sang raja dalam keadaan dimurkai, dijauhkan darinya, dan jatuh martabatnya di hadapan sang raja?”

Lihat
Al-Wabilush-Shayyib, Darul-Bayan,

Larangan menoleh ini dikecualikan dengan beberapa hal –jika dibutuhkan- seperti melirik dengan tanpa memutar leher, menolehnya imam kepada makmum karena suatu keperluan, dan meludah tiga kali ke arah kiri untuk menolak bisikan setan.

Lihat Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah,

4. Larangan Sujud Dengan Cepat Seperti Ayam Mematuk

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الأَشْعَرِيِّ ، أَن ّرَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلا لا يُتِمَّ رُكُوعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ يُصَلِّي ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَثَلُ الَّذِي لا يُتِمُّ رُكُوعَهُ ويَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ ، مَثَلُ الْجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لا يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

Dari Abu ‘Abdullah al-Asy’ari ra, bahwa Rasûlullâh saw melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya ketika ia sedang shalat, lalu

Rasûlullâh saw bersabda,
Jika orang ini mati dalam keadaannya ini, maka ia benar-benar mati tidak di atas agama Muhammad saw,”

Lalu Rasûlullâh saw bersabda,
Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya, (ialah) seperti orang lapar makan satu biji kurma, padahal dua biji kurma saja tidak bisa mencukupinya”.

Abu Shâlih (seorang perawi di dalam sanad hadits ini) berkata,
Aku bertanya kepada Abu Abdullâh,
‘Siapakah yang telah menceritakan hadits ini kepadamu dari Rasûlullâh saw?”

Dia menjawab, “Para komandan tentara, ‘
Amru bin al-‘Ash, Khalid bin Walid, dan Syurahbil bin Hasanah; mereka semua telah mendengarnya dari Rasûlullâh saw

HR Thabrani dalam Mu’jamul-Kabir,

5. Larangan Duduk Iq’a Seperti Binatang Buas.

Dalil larangan ini ialah hadits yang telah disebutkan di atas (point ke tiga), dan iq’a ini juga disebut dengan ‘uqbatusy-syaithan.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ

Dari ‘Aisyah, ia berkata, ”
Dan beliau (Nabi Muhammad saw melarang ‘uqbatusy-syaithan, juga melarang seseorang menghamparkan kedua lengannya seperti terhamparnya kaki binatang buas”.
[HR Muslim, no. 498].

Duduk iq’â dalam shalat itu ada dua macam:

Iq’â yang terlarang.
Yaitu cara duduk seperti binatang buas, kera atau anjing.
Cara duduk ini ialah dengan menegakkan kedua betis, menempelkan pantat ke tanah (lantai) dan meletakkan kedua tangan di tanah (lantai).
Iq’a yang boleh.
Yaitu meletakkan pantat di atas dua tumit pada waktu duduk di antara dua sujud.
Hal ini disebutkan di dalam beberapa hadits.

Lihat Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah,

6. Larangan Menggerakkan Tangan Ketika Salam Seperti Ekor Kuda.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا سَلَّمْنَا قُلْنَا بِأَيْدِينَا السَّلَامُ عَلَيْكُمْ , السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَنَظَرَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ تُشِيرُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ إِذَا سَلَّمَ أَحَدُكُمْ فَلْيَلْتَفِتْ إِلَى صَاحِبِهِ وَلَا يُومِئْ بِيَدِهِ

Dari Jabir bin Samurah ra ia berkata, ”
Aku shalat bersama Rasûlullâh saw
Kami dahulu jika salam (dari shalat), kami mengisyaratkan dengan tangan kami ‘as-salaamu ‘alaikum, as-salaamu ‘alaikum,’ kemudian Rasûlullâh saw melihat kami, lalu beliau bersabda, ‘

Mengapa engkau memberi isyarat dengan tanganmu, seolah-olah ekor-ekor kuda yang tidak tenang?
Jika seseorang dari kamu salam (dari shalatnya), hendaklah ia menoleh kepada saudaranya, dan janganlah ia memberikan isyarat dengan tangannya’.”
[HR Muslim, no. 431, dan lain-lain].

Penulis sering kali melihat ada sebagian orang melakukan shalat, ketika salam, ia membuka telapak tangannya ke arah kanan dan kiri. Perbuatan seperti ini termasuk di dalam larangan hadits ini.
Sepantasnya mereka mempelajari tata cara shalat dengan baik supaya dapat melakuan shalat itu sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw.
Demikian ini sedikit keterangan tentang larangan menyerupai keadaan atau gerakan binatang di dalam shalat. Semoga bermanfaat bagi kita.

والله أعلم بالصواب

Advertisements

7 Penyakit Hati

Photo

7 macam penyakit hati
➖➖➖➖➖➖➖➖

Penyakit hati itu sungguh berbahaya. Karena dampaknya sangatlah buruk
Maka dari itu, pentinglah kita ketahui apa saja penyakit hati itu, agar kemudian bisa kita cegah. Nah, setidaknya, ada 7 penyakit hati yang lumayan mengerikan. Berikut ini dia:.

⏩1. Takabbur
Takabbur itu artinya sombong.
“Beberapa contoh orang-orang sombong yang dimusnahkan oleh Allah diantaranya adalah: Firaun, Raja Namrud, Qarun, dan lain-lain.

Allah SWT berfirman: Janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan (QS al Isra’ [17]: 37).

“Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar biji sawi.”

⏩2. Riya’
Orang yang riya ’ itu dia memperlihatkan suatu amal sholeh kepada sesama manusia.

Pengertian Riya Menurut Istilah adalah melakukan ibadah, dengan niat ingin nantinya dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah kepada Allah semata.

Menurut Al Hafidz Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”.

Menurut Imam Al Ghazali, riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal hal kebaikan. Riya’ ini bisa muncul kapan saja. Bisa saat sebelum beramal, ataupun saat sedang beramal.

“Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. Al Baqarah: 264)

⏩3. Ujub
Ujub adalah sikap mengagumi diri sendiri, karena merasa lebih dari yang lain/Berbangga diri
Mungkin agak mirip dengan takabbur. Namun kalau ujub, belum tentu sambil berkeyakinan menolak kebenaran.
Kalau menurut Imam Al-Ghazali, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Alloh.”

Rasulullah Saw bersabda, “Tiga hal yang membinasakan: Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” ( HR. Thabrani)

⏩4. Sum’ah
Kata “sum’ah” berasal dari kata “samma’a”, yang artinya secara bahasa adalah “memperdengarkan”.

Sedangkan definisinya secara istilah, sum’ah adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi kepada manusia lain, agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.

Rasulullah Saw juga memperingatkan dalam haditsnya, “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.” (HR. Bukhari)

⏩5.Hasad
Hasad adalah merasa iri dengki pada kenikmatan dan kelebihan orang lain, disertai harapan agar semua itu hilang dari orang lain itu

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling menjauhi, dan jangan sebagian kalian membeli di atas pembelian yang lain. Jadilah kalian sebagai hamba hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, enggan membelanya, membohonginya dan menghinanya. Takwa itu di sini Rasul menunjuk dada beliau tiga kali. Keburukan paling keterlaluan seseorang adalah ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim dan Ahmad)

⏩6. Taqtir
Taqtir itu artinya terlalu pelit. Tidak mau mengeluarkan harta, padahal wajib.

Imam Ibnu Jauzi dalam kitabnya at thibbu ar ruhi mendefinisikan kikir sebagai sifat enggan menunaikan kewajiban, baik harta benda ajau jasa.

Rasulullah Saw bersabda: “Seburuk buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut. ” (HR. Ahmad)

⏩7. Panjang angan angan
Orang yang terlalu panjang angan angan pun berbahaya. Karena dia mengerahkan segenap tenaganya, waktunya, dan uangnya untuk mengejar keinginan keinginannya; sembari melalaikan kewajibannya dan malah tak peduli hal hal yang diharamkan.

Orang seperti itu, seolah olah atau memang menganggap dirinya tak akan mati, atau matinya masih lama. Sehingga, dia tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari Akhir.

“Orang berakal adalah yang tidak panjang angan angannya. Karena, siapa saja yang kuat angan angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan.” (Ibn Hayyan al Basti, Raudhatu al Uqala’ wa Nuzhatu al Fudhala’)

7 Ayat Motivasi

Photo

Sahabat..
Kita pasti pernah mengalami ujian yang terasa sangat berat, sampai kita merasa putus asa, khawatir, bingung akan masalah tersebut.

Ada beberapa ayat di dalam Al Qur’an yang akan memotivasi kita agar tetap berjuang, tetap bertahan, dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan yang berat.

⏩Ayat #1 : Kita Bisa Berubah, Jika Kita Mau Mengubah Diri Anda
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri ”. (Q.S. Ar Ra’d:11)

Apa pun kondisi kita saat ini, jika kita mau berubah, maka kita harus mengubah diri sendiri.
Maka Allah akan mengubah kita. Inilah yang sering dilupakan, banyak yang berharap orang lain atau yang diluar berubah, tetapi melupakan diri sendiri yang diubah.

Ayat ini memotivasi kita untuk mengubah diri kita, maka yang lain akan berubah atas bantuan Allah. Jangan hanya menuntut yang diluar diri berubah.
Anda jauh lebih mudah mengubah diri sendiri, daripada mengubah orang lain. Ayat ini adalah motivasi untuk berubah.

⏩Ayat #2 : Kebaikan Dibalik Yang Tidak Kita Sukai
“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui“ ( Q.S. Al Baqarah:216 )

Sering kali, saat seseorang mendapati sesuatu yang tidak dia sukai, maka dia marah, kecewa, sedih, ngomel, dan akhirnya putus asa.
Padahal, bisa jadi apa yang tidak dia sukai itu malah baik baginya.
Jangan kecewa saat kita tidak diterima di sebuah perusahaan untuk menjadi karyawannya. Bisa jadi itu yang terbaik bagi kita.
Bisa jadi kita akan mendapatkan perkerjaan lebih baik. Bisa jadi, justru akan mendapatkan hal buruk jika diterima diperusahaan itu.
Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi.
Untuk itu, syukuri apa pun yang terjadi saat ini termasuk penolakan dan kekecewaan lainnya.

⏩Ayat #3 : Kita Pasti Sanggup
“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” ( Q.S. Al Baqarah: 286)

Jika kita mengatakan, “saya tidak akan sanggup”, sebenarnya kita sudah mendahului Allah. kita sok tahu, bahwa kita tidak akan mampu. Kata siapa? Itu hanya pemikiran negatif kita. Bisa karena malas, manja, atau cengeng.

Padahal jelas, dalam ayat diatas bahwa kita tidak akan dibebani beban apa pun kecuali sesuai dengan kesanggupan kita. Jika kita berpikir tidak sanggup, itu hanya anggapan kita saja.
kita pasti sanggup jika kita menyanggupinya. Jangan kalah oleh pikiran negatif kita yang dengan mudah mengatakan tidak sanggup.

⏩Ayat #4 dan #5 : Kemudahan Bersama Kesulitan
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan .” ( Q.S. Al Insyirah: 5 – 6 )

Kebanyakan orang, saat menghadapi kesulitan, dia berhenti alias menyerah. Ada juga yang mengeluh, berharap orang lain mau membantunya mengatasi kesulitan dia. Padahal, bersama kesulitan itu adalah kemudahan.

Jika Anda menghindari kesulitan, Anda tidak akan mendapatkan kemudahan. Jika Anda berharap orang lain yang mengatasi kesulitan, maka kemudahan akan menjadi milik orang lain.
Anda tidak akan mendapatkan kemudahan dari kematangan, keterampilan, dan pengalaman yang didapatkan.

Perhatikan ayat ke6, ada kata “sesungguhnya”, artinya sebuah penguatan atau penegasan akan kalimat sebelumnya.

⏩Ayat #6 dan #7 : Takwa dan Tawakal
“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya ” ( Q.S. Ath Thalaq: 2 – 3 )

Dua akhlaq ini luar biasa. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Sedang menghadapi masalah atau tantangan besar? Butuh jalan keluar? Maka bertakwalah, Allah akan memberikan jalan keluar juga rezeki yang tidak ia sangka.

Jika kekuatan tawakal, Anda akan dicukupkan, termasuk dicukupkan segalanya untuk menghadapi rintangan, halangan, tantangan, dan juga masalah.
➖➖🌹🌹🌹➖➖

Mudah mudahan dengan rajin membaca dan merenungi ketujuh ayat diatas akan menjadikan kita semua menjadi pribadi yang pantang menyerah.

Hafalkan ayat ayat diatas dan bacalah sambil merenungi maknanya saat Anda sedang menghadapi tantangan atau masalah.
Inshaa Allah Anda akan mendapatkan motivasi luar biasa…😊🙏

Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir

Semoga apa yang telah disampaikan ini ada manfaatnya,

Wallahù’alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,

Wassalamù’alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh

Semua makhluk sentiasa berhajat kepada Allah SWT

Photo

SEHEBAT APAPUN MANUSIA TETAP MEMERLUKAN PERTOLONGAN ALLAH

Allah menciptakan manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahannya disamping kelebihan dan kekuatannya, inilah mengapa kita memerlukan pertolongan Allah. Kita harus memahami keterbatasan dan kelemahan ini agar kita menyadari akan kelemahan kita dan mampu mengatasi kelemahannya tersebut dan menjadikanya kemuliaan.

Sebagai makkhluk, manusia lemah, manusia diciptakan dengan keterbatasan fisik dan akal. Fisik manusia tidak akan mampu menggerakan alam semesta ini dengan tenaganya, bahkan juga akal manusia dengan berbagai hasil teknologinya. Manusia sangat lemah dihadapan Allah sehingga diperlukan untuk meminta bantuan dan pertolongan Allah SWT.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS.4:28)

Kelemahan manusia lainnya ialah bodoh. Seperti apa yang difirmankan Allah,

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS.33:72)

Memikul amanat itu memerlukan ilmu dan pengamalan yang konsisten sehingga tidak mengkhianati amanat tersebut. Apabila manusia berilmu dan mampu mengamalkannya dengan istiqamah maka terlepas dari kezaliman dan kebodohan.

Oleh karena keterbatasan-keterbatasan tersebut, manusia meskipun memiliki berbagai kemuliaan, masih memerlukan pertolongan Allah. Sungguh aneh jika ada manusia yang merasa bahwa ada urusan yang tidak memerlukan Allah, dengan kata lain tidak sejalan dengan apa yang digariskan oleh Allah. Padahal manusia itu lemah dan bodoh.

Sebagai makhluk lemah dan bodoh, sudah sewajarnya jika kita selalu meminta pentunjuk kepada Allah dan menjalankan semua petunjuk yang telah ada, yang telah tercantum dalam Al Quran dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Sungguh sombong manusia yang tidak memerlukan petunjuk-Nya atau mereka-rekanya sesuai dengan pikirannya sendiri.

“Apakah kamu mengira akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat”.(QS. Albaqarah: 214)

AGAR MENDAPATKAN PERTOLONGAN ALLAH

Pertolongan Allah Datang Kepada Orang yang Menolong Agama Allah

Bukan berarti Allah tidak berdaya berharap pertolongan dari manusia, tetapi ini bentuk perintah sekaligus ujian bagi kita apakah kita mau mengikuti perintah Allah. Dan Allah berjanji (yang tidak mungkin ingkar) bahwa akan menolong kita jika kita menolong agama Allah.

“Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.(QS. Muhammad:7)

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS.Al Hajj : 40)

Cara menolong agama Allah tiada lain dengan menegakan kalimat Allah di muka bumi, dengan cara berdakwah dan berjihad serta peduli dengan umat-Nya yang sedang dilanda kesulitan seperti saudara kita di Palestina. Ini jelas membantah pendapat yang mengatakan kita tidak usah repot memikirkan negara orang lain, sebab negara kita pun banyak masalah.

Justru dengan menolong negara orang lain, adalah bagian dari menoong agama Allah yang akan mendatangkan pertolongan Allah bagi negeri kita.

Bertakwalah Kepada Allah

Jelas, bagi yang bertakwa pertolongan Allah akan datang berupa jalan keluar dari masalah kita.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”.(QS. Ath Thalaq:2)

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya.”(QS. Ath Thalaq:4)

Shabar dan Shalat

“Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah : 153)

Sejauh mana sabar kita? Apakah kita masih mengeluh? Apakah kita masih mengatakan sabar itu ada batasnya? Jika pertolongan Allah tidak kunjung tiba, mungkin kita perlu memeriksa tingkat kesabaran kita. Sejauh mana kita tetap teguh dalam kebenaran?

Begitu juga, jika pertolongan Allag terasa jauh, bagaimana dengan shalat kita? Apakah kita hanya melakukan shalat tanpa benar-benar mendirikan shalat dalam segenap kehidupan kita. Apakah kita merasa shalat sebagai penggangu aktivitas? Apakah shalat hanya sebagai pelengkap hidup?

Sejauh mana kita mengetahui cara shalat yang benar atau hanya ikut-ikutan saja? Sejauh mana hati kita ada saat kita melakukan shalat?

Jangan dulu mengeluh karena pertolongan Allah tidak juga menhampiri kita, mungkin sabar dan shalat kita yang masih perlu benahi.

Sudahkah Kita Melepaskan Kesulitan Orang lain?

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya“. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

PENUTUP

“Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Albaqarah: 214)

Tetaplah usahakan dam berdo’alah agar mendapatkan pertolongan Allah yang amat dekat.

Pesanan Buat Pendakwah

Photo

MUTIARA KATA UNTUK PARA DAEI

👉Orang yang mendengar akan lupa
👉Orang bercakap akan ingat
👉Orang yang beramal akan faham
👉Orang Istiqamah akan ikhlas
👉Orang yang ikhlas akan maqbul
👉Orang yang maqbul masuk syurga

💠Dunia adalah jasad, Rohnya adalah agama
💠Agama adalah jasad, rohnya adalah dakwah
💠Dakwah adalah jasad, Rohnya ialah mujahadah
💠Mujahadah adalah jasad, Rohnya adalah mesyuarat
💠Mesyuarat adalah jasad, rohnya adalah taat
💠Taat adalah jasad, Rohnya adalah ikhlas
💠Ikhlas adalah jasad, Rohnya adalah istikhlas

 

 

 

Perbezaan diantara orang berilmu dan orang jahil

Photo

Ilmu dan pengetahuan keduanya dapat membuka cakrawala ‘aqal lalu meneranginya, keduanya dapat membedakan manusia dari selainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala;

قل هل يستو الذين يعلمون والذين لا يعلمون؟

” katakanlah…apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”

رَبِّ زِدْنَا عِلْمًا نافِعًا….وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً..

Ya..Rabb.. Tambahkan kami ilmu yang bermanfa’at serta ‘amal yang di terima.

Photo

Photo

Photo

Mudahnya menguasai manusia

Photo

KEUTAMAAN AKHLAK…
=====================

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. Kemudian ia bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah yang di sebut dg agama itu?”

Beliau menjawab:
“Akhlak yang mulia.”

Laki-laki itu bertanya lagi:
“Wahai Rasulullah, apa yang di sebut dengan kecelakaan itu?”

Beliau menjawab:
“Akhlak yang buruk”

Kemudian Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, ialah di hari kiamat tempatnya dekat di antara Aku dan Kamu. Dialah orang yang baik budi pekertinya..”

_____________________________
subhanallah….

🍃 ALLAHUMMA SHOLLI ALA MUHAMMAD 🍃

semoga bermnfaat dan dapat memperindah budi pekerti kita