Arkib Kategori: Bimbingan Agama

PESAN RASULULLAH SAW UNTUK PARA ISTRI DAN WANITA

No automatic alt text available.

RENUNGAN BERSAMA IHYA ASSUNNAH SOLUTION

PESAN RASULULLAH Untuk PARA ISTRI dan WANITA

~ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu’anhu:

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

~ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad: 1/191)

~ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata:

“Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.”
(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah

~ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

~ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, *Tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.”* (HR. Muslim no.1436)

~ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)

~ Aisyah berkata,
“Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?”
Jawab Rasulullah,
“Suaminya. ”
“Siapa pula yang berhak terhadap lelaki?”
Jawab Rasulullah,
“Ibunya.”

~ Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya:

“… Dan aku melihat NERAKA maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA.”

Para shahabat pun bertanya:
“Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?”

Beliau menjawab:
“Karena kekufuran mereka.”

Kemudian mereka bertanya lagi:
“Apakah mereka kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab:
“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.”
(HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

~ Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya:

“… Dan aku melihat NERAKA maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA.”

Para shahabat pun bertanya:
“Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?”

Beliau menjawab:
“Karena kekufuran mereka.”

Kemudian mereka bertanya lagi:
“Apakah mereka kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab:
“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.”
(HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

~ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina.” (HR. Nasaii ibn Khuzaimah & Hibban).

Ini Penting Untuk Dilakukan Para Istri. Semoga Anda Bisa Menjadi ISTRI Sholehah dan BISA MASUK SURGA dari PINTU yang Anda Suka. Amiin.
C&P

Advertisements

JANGAN PERNAH PUTUS TALI SILATURAHMI

Image may contain: one or more people

Gambar sekadar renungan bersama

Penyucian Jiwa Bersama Ihya Assunnah Solution

*JANGAN PERNAH PUTUS TALI SILATURAHMI*.

karena Silaturrahmi banyak membawa Makna yg Berarti:

*Berteman Dengan Berbagai Karakter Manusia akan Membuatmu Menjadi BIJAK..

1. Ada TEMAN yang bersifat KERAS… dari dialah sebetulnya yang mendidik kita untuk  berani dan bersikap tegas……

2. Ada TEMAN yang LEMBUT, dari dialah yang mengajarkan kepada kita cinta dan kasih sayang terhadap sesama..

3. Ada TEMAN yang CUEK dan masa BODOH, dari dialah sebetulnya yang membuat kita
berpikir bagaimana agar kita bersikap perhatian terhadap orang lain…..

4. Ada TEMAN yang tidak bisa dipercaya dan kata-katanya sulit dipegang
kebenarannya, dari  dialah yang membuat kita berpikir dan merasa
betapa tidak enaknya dikhianati maka belajarlah untuk menjadi orang
yang dapat dipercaya.

5. Ada TEMAN yang JAHAT & JUDES yg hanya bisa memanfaatkan kebaikan orang
lain saja, dari  dialah kita bisa  belajar, bgmn kita bertindak & bisa berbuat banyak
kebaikan namun tetap waspada…..

• Setiap karakter manusia di atas akan selalu baik &  mendidik kita, bgmn sebaiknya kita hrs bersikap…

Perlu kita tau
Bahwa Besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya…

Tanpa orang-orang seperti itu kita akan selalu terlena dalam *zona nyaman & tidak berkembang.*

Bersyukurlah selalu dalam setiap keadaan dan terimalah setiap orang dalam hidup kita.

*Karena Allah tidak pernah keliru mempertemukan kita dengan siapa pun, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya.*

Karena karakter orang seperti diatas tadi secara tidak langsung selain melatih kesabaran kita, juga membuat kita semakin _*DEWASA & BIJAKSANA*_

Ketika ada *orang bicara mengenai kita di belakang,* itu adalah *tanda bahwa kita sudah ada di depan mereka*

Saat *orang bicara merendahkan diri kita,* itu adalah *tanda bahwa kita sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka*

Saat *orang bicara dengan nada iri mengenai kita,* itu adalah *tanda bahwa kita sudah jauh lebih baik dari mereka.*

Saat *orang bicara buruk mengenai kita, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka,* itu adalah tanda bahwa kehidupan kita sebenarnya lebih indah dari mereka.

“`Payung tidak dapat menghentikan hujan tapi Dengan Payung membuat kita bisa berjalan menembus hujan untuk mencapai Tujuan.“`

Orang pintar bisa gagal,
Orang hebat bisa jatuh,
Tetapi orang yang _*RENDAH HATI & SABAR*_
dalam segala hal akan selalu mendapat jalan untuk menempatkan diri dengan seimbang karena kokoh pijakannya..

Mengapa yahudi mendiami bumi Palestin?

Photo

MASJID AL-AQSA dan ILUSI HAIKAL SULAIMAN yang HILANG

Oleh: Ust. Dr. Miftah el-Banjary

Barangkali ada ratusan pertanyaan di benak kita tentang konflik berkepanjangan di Palestina hari ini.

“Mengapa Israel menduduki Palestina? Ada apa dengan Masjidil Aqsa? Mengapa konflik tak pernah usai? Apa kepentingan Israel sebenarnya? Apakah tidak ada jalan damai yang bisa ditempuh?”

Memang siapa saja akan kesulitan memahami konflik Israel-Palestina ini jika hanya memahami dari sekedar perspektif politis saja. Konflik keduanya harus didudukkan dulu dari paradigma historis.

Pendekatan historis inilah yang ditempuh oleh al-Qur’an ketika menjelaskan tentang karakter orang-orang Bani Israel secara berulang-ulang, disebabkan potensi besar mereka melakukan kerusakan dahsyat di muka bumi ini.

Term al-Qur’an lebih tepat dengan penggunaan istilah akar sejarah “Bani Israel” untuk menunjukkan klan bangsa Yahudi secara ideologi. Meskipun pada hari ini kita lebih akrab dengan istilah “Zionisme” sebagai gerakan organisasi bangsa Israel mendirikan Negara Israel Raya diatas tanah sah rakyat Palestina.

Kisah-kisah sejarah tentang nenek moyang Bani Israel pada masa Nabi Musa hingga kedurhakaan mereka pada setiap nabi yang diutus menjadi semacam “Warning Sign” bahwa generasi-generasi mereka akan senantiasa ada dan hidup menebarkan fitnah dan kerusakan di tengah-tengah kita hingga hari kiamat.

Bani Israel yang disebutkan di dalam al-Qur’an menunjuk pada aspek historis bahwa sejatinya mereka masih keturunan nabi Ibrahim dari jalur putranya Ishaq. Sedangkan penyebutan nama lain istilah “Yahudi” lebih spesifik lagi mengindikasikan mereka berasal dari keturunan Yahudza; putra nabi Ya’qub.

Pada masa Nabi Yusuf berkuasa sebagai Perdana Menteri di Mesir, saudara-saudara Yusuf dari keturunan Bani Israel ini melakukan eksodus besar-besaran ke Mesir dan tinggal di kawasan bernama al-Fayyoum. Sampai hari ini provinsi al-Fayyoum masih ada di Mesir.

Orang-orang Bani Israel hidup tentram selama kurang lebih 400 tahun di Mesir, hingga akhirnya Raja Hexsos dikalahkan oleh dinasti Fir’aun, sejak saat itulah orang-orang Bani Israel mulai diperbudak dan disiksa dengan ujian yang sangat berat.

Bani Israel selain dianggap pernah memiliki kedekatan dengan raja Hexsos yang pernah dikalahkan, mereka juga dikhawatirkan akan menjadi batu sandungan bagi kekuasaan dinasti Fir’aun.

Perlu diketahui bahwa nama Fir’aun itu bukan nama seseorang, melainkan nama sebuah dinasti. Terdapat sekitar ada 40 orang raja yang menyandang nama Fir’aun.

Lebih-lebih lagi, salah satu Fir’aun mendapat isyarat takwil dari para peramal, bahwa dari kalangan Bani Israel ini akan muncul dan lahir seorang laki-laki yang akan menghancurkan dinasti Fir’aun.

Sejak itulah, siksaan yang diterima oleh Bani Israel semakin dahsyat.Walhasil, setiap berselang tahun, selalu ada saja anak bayi laki-laki yang dibunuh. Mereka pun dipaksa untuk membangun mega proyek dinasti Fir’aun, seperti membangun Piramid untuk raja Khufu, raja Kafrawie dan Raja Munqara’ yang masih ada sampai saat ini.

Bani Israel dipaksa membangun Piramid tersebut demi kepentingan Fir’aun. Satu biji Piramid bisa menelan jutaan jiwa dan dibangun hingga dalam rentang waktu 40 tahun.

Kelahiran nabi Musa menandai kembalinya kejayaan Bani Israel. Nabi Musalah yang menyelematkan Bani Israel dari perbudakan. Nabi Musa lah yang membawa keluar mereka dari Tanah Mesir menuju “Land Promised” atau “Tanah yang Dijanjikan” di Jerussalem.

Semenjak anak keturunan Ya’qub meninggalkan negeri Kan’an yang masih termasuk kawasan Jerussalem menuju Tanah Mesir pada masa Nabi Yusuf, kemudian mereka hidup beranak keturunan serta menempati Mesir lebih dari 500 tahun lamanya, kemudian keluar meninggalkan Mesir pada masa Nabi Musa,secara geografis mereka tidak memiliki tanah tempat lagi.

Nabi Musa mengajak mereka memasuki Tanah Jerussalem yang di dalamnya dijanjikan kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan. Namun, dalam perjalanannya mereka justru enggan, bahkan rentetan demi rentetan kedurhakaan mereka lakukan hingga pada Bani Israel generasi awal gagal memasuki Jerussalem.

Mereka baru bisa masuk saat dibawa oleh Nabi Ilyasa’ atau Nabi Elisa menurut Taurat di perjanjian lama. Orang-orang Israel yang memasuki Jerussalam pun harus berperang terlebih dahulu melawan tirani raja yang sedang berkuasa di sana. Disinilah kisah heroik Jalut mengalahkan Talut diceritakan di penghujung akhir surah al-Baqarah dengan sangat menarik dan dramatikal sekali.

Dari sinilah Nabi David atau Daud alahissalam menjadi raja bagi Bani Israel. Rentang perjalanan sejarah panjang, orang-orang Israel kembali menguasai Jerussalem ini berlangsung hingga ratusan tahun dan puncaknya saat Nabi Sulaiman mendirikan kerajaan yang menguasai dunia.

Nabi Sulaiman pun mendirikan sebuah Haikal (960-953 SM) semacam tempat ibadah suci yang merupakan simbol ketaatan dan kesyukuran atas karunia dan anugerah besar atas dirinya dan Bani Israel.
Haikal ini kemudian diyakini oleh orang-orang Israel sebagai simbol suci kejayaan mereka.

Dalam bajasa Ibrani Haikal disebut Bait Hamiqdash yang berarti “Baitul Maqdis” atau “Rumah Suci”. Barangkali semacam “Baitullah” bagi kaum muslimin.

Meskipun bangunan Haikal ini sudah dua kali dihancurkan dan dirobohkan pertama oleh Nebukadnezar dari Babylionia (589 SM), kemudian dibangun lagi dari bangunan yang tersisa atas prakarsa toloh Yahudi Zerobabel (520-515 SM), sayangnya kemudian dihancurkan lagi oleh Titus, Kaisar Romawi (70 SM).

Sampai hari ini bangsa Yahudi tersebar di seluruh dunia kembali ke Palestina untuk membangun negara barunya; Israel Raya. Mereka berupaya keras dan sungguh-sungguh mencari dan menemukan kembali bekas berdirinya Haikal itu merupakan proyek sejarah dalam mengembalikan kerajaan Israel Raya.

Proyek penggalian terongan di bawah Masjidil al-Aqsa yang berlangsung semenjak berdirinya negara Israel tahun 1948 hingga hari ini tak terlepas dari kesadaran sejarah mereka bahwa “Haikal King Soloman” terletak di atas bangunan Masjidil Aqsa yang berdiri hari ini.

Dalam kitan Talmud yang mereka yakini kedudukannya semacam kitab Hadits Bukhari bagi umat Islam dijelaskan bahwa kejayaan Israel akan kembali menguasai dunia bila mereka berhasil menemukan dan membangun kembali situs Haikal yang hilang.

Oleh karena itulah, motivasi terbesar mereka adalah mengembalikan berdirinya Haikal Sulaiman demi mengembalikan kejayaan berdirinya Negara Israel Raya di Palestina.

Bagaimana Haikal Sulaiman Menurut Islam?

Menurut sejarah Islam tidak pernah dikenal bahwa Nabi Sulaiman pernah mendirikan Haikal. Dalam sebuah hadits Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi.

Nabi Saw menjawab, “Masjid pertama kali yang dibangun adalah Masjidil Haram.”

“Setelah itu masjid apa lagi?” tanya Abu Dzar.

Nabi menjawab, “Masjid yang dibangun dibangun oleh Nabi Sulaiman.”

“Berapa jarak antara keduanya?” tanya Abu Dzar.

Nabi Saw menjawab, “Jaraknya sekitar 40 tahun.”

Jadi Haikal dalam konsep Yahudi hanyalah semacam ilusi dalam dongeng pengantar tidur sebagai motivasi sekaligus justifikasi mereka atas segala tindak tanduk ketamakan mereka menguasai dunia serta merampas hak manusia lainnya di muka bumi secara sewenang-wenangnya.

Tak peduli mereka harus menjajah dan membunuhi rakyat Palestina yang notabene dari bangsa Arab yang telah lama menguasai Palestina. Ibaratnya, mereka pemilik rumah lama yang berusaha mengusir pemilik rumah baru dengan cara yang tidak sah.

Jadi memang penguasaan dan kependudukan orang-orang Bani Israel terhadap negara Palestina bukan sekedar dipahami sebagai sebuah upaya kolonialisme secara politis dan geografis.

Namun lebih dari itu, ada upaya sungguh-sungguh secara keyakinan ideologis dan “Historical Awareness” bahwa menghancurkan Masjidil Aqsa merupakan Mega Proyek Bangsa Israel mengembalikan kerajaan Israel Raya, karena di sanalah ditenggarai bekas Haikal Sulaiman yang menyimpan aset kekayaan nabi Sulaiman masa lampau.

Hal inilah yang jarang diketahui dan dipahami oleh pengamat politik dan pengamat Timur Tengah di Indonesia hingga hari ini. Sehingga konflik Palestina tidak semata dipahami seruan jihad fisik, namun lebih pada jihad ideologi dan ekonomi dari umat Islam itu sendiri.

Jadi menurut hemat saya, persoalan konflik Palestina tidak akan pernah selesai sebelum umat Islam dari berbagai negara-negara mayoritas muslim bersatu dalam ideologi, kekuatan ekonomi dan politik, sebab ketiga kekuatan inilah yang dimiliki oleh Negara Israel dalam menancapkan cakar kolonialisme terhadap Palestina.[]

IMAN ITU BAHAGIA BILA DIUJI

No automatic alt text available.

IMAN ITU BAHAGIA BILA DIUJI (satu bab daripada buku BEDUK DIKETUK LAGI)

Suaranya sungguh tenang. Walaupun masalahnya agak berat, tetapi segala-galanya disuarakan begitu teratur.

“Ustaz, semuanya bermula apabila suami saya berpoligami,” luahnya perlahan.

“Sudah lama?”

“Baru sahaja. Sejak dua bulan yang lalu.”

“Puan kecewa, marah?”

“Tidak. Insya-Allah, tidak. Saya boleh menerima segala-galanya dengan baik.”

“Jadi, apa masalahnya?” tanya saya agak terkejut. Selalunya, punca masalah berlaku apabila isteri pertama tidak boleh menerima hakikat dia telah dimadukan.

“Masalahnya daripada ibu bapa dan ipar-duai saya. Semuanya menentang. Mereka beranggapan saya telah dizalimi oleh suami. Mereka desak saya bertindak.”

“Puan bertindak?”

“Tidak. Saya tetap dengan pendirian saya. Saya ingin hadapi semua ini dengan tabah.”

“Alhamdulillah, kalau begitu. Jadi, apa masalahnya lagi?”

“Apabila saya tidak mahu bertindak, mereka tuduh saya pula turut bersubahat dengan suami. Mereka marahkan saya. Akibatnya, hubungan saya dengan mereka renggang. Tegur sapa dan ziarah-menziarahi tidak semeriah dulu. Saya sedih diperlakukan begini.”

Kunci Keharmonian

Saya diam. Insya-Allah, ia akan memberi ruang untuknya menarik nafas dan mengatur semula perasaan. Percayalah, acap kali mereka yang mengadu bermasalah kadang-kadang tidak bermasalah langsung. Mereka hanya ingin didengari. Teringat perkara yang sering ditegaskan oleh pakar psikologi, luahan dan rintihan manusia perlu didengar sama seperti mereka memerlukan makanan.

“Puan, kunci keharmonian dalam poligami terletak pada tangan puan dan suami, insya-Allah. Bukannya pada tangan ibu bapa puan atau mertua, apatah lagi ipar duai,” akhirnya saya bersuara. Perlahan-lahan. Satu-satu. Mengikut rentak suaranya.

Di hujung talian, saya dapat rasakan dia sedang sayu. Lalu saya teruskan: “Jika puan tabah, tenang dan steady, orang lain tidak akan berani berbuat apa-apa. Mereka hanya akan ‘bising’ seketika. Kemudian, ketabahan puan itulah yang akan memadamkan segala-galanya. Apa perasaan puan setelah berpoligami?”

“Saya telah bersedia sejak suami menyatakan hasratnya. Ini sudah rezeki saya,” ujarnya.

Dalam diam, saya menyanjung sikap wanita ini. Dia menggunakan istilah ‘rezeki’. Ya, rezeki itu sinonim dengan kebaikan dan keberkatan. Ertinya, dia telah bersedia untuk menerima segala-galanya dengan tabah sejak awal lagi.

“Apa yang mendorong puan bertindak begitu?” tanya saya mendorong dia meluahkan segala isi hatinya. Dengan meluahkan segala niat, azam dan segala yang terpendam dalam jiwanya, insya-Allah dia akan lebih tabah dan yakin.

“Ustaz, suami saya baik. Bertanggungjawab. Saya yakin dia tidak bertindak sembarangan. Bukan kerana suka-suka. Saya yakin dia boleh bertanggungjawab dengan baik terhadap dua orang wanita.”

Sekarang giliran saya pula terdiam. Saya ingin belajar erti tabah daripada seorang isteri untuk menghargai isteri sendiri.

Kekuatan Tabah

“Sejak awal lagi rumah tangga kami dibina atas cita-cita ingin mencari keredaan Allah. Dia jawapan istikharah saya, dan saya jawapan istikharah dia. Sebelas tahun berlalu, bermacam-macam ujian kami lalui. Istikharah pun diuji, kan? Begitu yang saya baca dalam tulisan ustaz. Istikharah itu perlukan mujahadah. Alhamdulillah, segala-galanya dapat kami harungi bersama. Sekarang… ujian poligami.”

“Puan tidak rasa dieksploitasi?”

“Tidak,” jawabnya tegas.

“Tidak sekali-kali, ustaz. Memang ada lelaki yang ditakdirkan untuk memimpin lebih daripada seorang isteri.”

“Dan ada wanita yang ditakdirkan mampu menerima wanita lain berkongsi kebahagiaan bersama-sama suaminya,” pintas saya.

“Mengapa ibu bapa dan ipar-duai saya bersikap begitu? Sedangkan saya yang menanggung segala-galanya?” Dia kembali kepada permasalahan asalnya.

“Itulah trauma masyarakat Melayu kita. Persepsi terhadap poligami terlalu negatif. Poligami disinonimkan dengan penzaliman dan penganiayaan. Padahal, poligami satu perkongsian dan pembelaan.”

“Mungkin kerana pelaksanaan poligami yang begitu pincang selama ini,” balasnya.

“Kalau begitu, perkahwinan yang monogami pun bermasalah. Statistik terkini menunjukkan setiap 15 minit penceraian terjadi. Apa penyebab poligami?”

“Masyarakat kita hanya mengikut sentimen, bukan berdasarkan ilmu dan fakta, ustaz.”

“Saya tidak nafikan, ada juga lelaki zalim yang berpoligami hanya untuk berseronok-seronok, mengikis harta, berbangga-bangga, hanya cuba-cuba dan sebab-sebab lain yang tidak syarii. Mereka ini bukan sahaja menzalimi isteri-isteri mereka, tetapi turut mencemarkan kesucian hukum Islam!”

“Jadi saya perlu biarkan sahaja sikap negatif ibu bapa, mertua dan ipar-duai saya?”

“Selagi puan bertabah dan suami puan berlaku adil dan bijak mengemudi rumah tangga, insya-Allah semuanya akan reda dengan sendirinya.”

Cinta kerana Allah

“Sunyi juga. Terasa kehilangan.”

“Inilah hikmah besar poligami, puan. Supaya kita kukuh dan teguh meletakkan cinta pertama dan utama kita kepada Allah. Ini jalan yang ditakdirkan untuk puan agar lebih akrab dengan Allah. Kadangkala kehilangan akan menemukan kita kepada suatu yang lebih mulia dan berharga!”

“Saya akan kehilangan cinta suami?”

“Tidak. Dengan mencintai Allah, puan akan lebih mencintai kerana Allah dan dicintai oleh orang yang mencintai Allah. Doakan agar suami puan mencintai Allah.”

“Saya tidak pandai ustaz. Saya bukan ustazah. Hanya seorang suri rumah biasa. Tetapi saya terus belajar dan mendengar. Saya ‘pelajar’ yang sedang bermujahadah.”

Itulah kunci segala-galanya. Cinta Allah itu diraih dengan mujahadah. Jangan cepat mendakwa bahagia, jika usia perkahwinan baru memasuki tahun kelima, keenam atau kurang daripada itu. Tabah itu tidak dicapai hanya dengan kata-kata yang disulam oleh al-Quran dan hadis. Ataupun oleh sajak dan ungkapan yang indah serta puitis. Bukan. Tabah itu ditempa oleh keperitan mujahadah, pengorbanan perasaan dan sikap memberi yang tiada batasan. Jangan mengaku beriman jika belum diuji. Jangan mendakwa bahagia, jika belum banyak menderita kerana bahagia itu ditempa oleh derita!

“Terkadang datang juga rasa cemburu… bagaimana ya?” kembali suara itu mengocak lamunan saya.

“Cemburu itu fitrah. Itu tanda ada cinta. Selagi dalam batas-batas syariat, selagi itulah cemburu itu selamat. Puan punya banyak masa sekarang?”

“Begitulah ustaz. Ketika bukan giliran saya, ada banyak masa untuk melaksanakan amalan-amalan sunat serta membaca al-Quran dan buku-buku yang ditangguhkan pembacaannya sejak dulu.”

“Itulah hikmahnya. Ada masa untuk membina dan memperbaiki diri sendiri kerana walau bagaimana baik sekalipun pendidikan yang diberikan oleh suami, isteri tetap perlu mendidik dirinya sendiri,” dorong saya.

“Sepertimana perkahwinan pertama dahulu diuji, begitulah perkahwinan kedua ini, pasti diuji. Iman itu bahagia. Iman itu diuji. Justeru, bahagia itu hadir apabila diuji,” ujar saya perlahan.

“Insya-Allah ustaz, doakan saya tabah. Bukankah selalu ustaz berpesan; jangan pinta hidup yang mudah, tapi pintalah hati yang tabah untuk menghadapinya!”

Saya sebak. Kata-kata yang selalu saya luahkan itu menusuk hati sendiri. Seolah-olah buat pertama kali mendengarnya.

Ya, hakikatnya Allah sedang mengingatkan saya ketika mengingatkan orang lain. Tabahkah hati menempuh kehidupan yang tidak akan pernah mudah ini?