Arkib Kategori: Penyucian Jiwa

JANGAN TERTIPU DENGAN AMALMU

Photo

JANGAN TERTIPU DENGAN AMALMU

Bismillaah…

Begitu banyak amalan telah berlalu, lantas yakinkah Allah Ta’ala menerima amal-amal tersebut ?
Hendaknya tanyakan pada hati kecilmu, sudahkah amalan yang dilakukan atas dasar ilmu ? Sudahkah amalan yang dilakukan sesuai dengan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan ? Tidaklah akan diterima suatu amalan apabila tidak berdasar pada ilmu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka amal itu tertolak.” [📓HR. Muslim no. 1718].

Hendaknya tanyakan pada hati kecilmu, sudahkah mengikhlaskan amal itu hanya untuk Rabb ‘Azza wa Jalla? Ikhlas itu berat, saudaraku. Mengapa sangat yakin amal akan diterima? Tauladan kita, para Nabi saja dengan kerendahan hati mereka, masih berdo’a mengharap amalnya diterima.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [📑QS. Al Baqarah : 127].

Tidaklah amalan-amalan yang telah dikerjakan itu merupakan buah dari kehebatan seseorang. Seseorang tidaklah mempunyai jasa atas amalan-amalan yang dikerjakannya. Hanya Allah saja yang mampu menggerakkan seseorang untuk beramal sebab taufik yang diberikan-Nya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata,
“Allahlah yang mengilhamkan hamba-Nya untuk bertaubat kepada-Nya, dan Dia sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya itu, meskipun taubat hamba itu tidak lepas dari karunia dan kemurahan-Nya. Allahlah yang mengilhamkan ketaatan dalam diri hamba-Nya dan Dia pula yang membantunya melakukannya, lalu membalasnya dengan pahala; dan semua itu tidak lepas dari karunia dan kemurahan-Nya.” [📚Fawaidul Fawaid (terjemah), hal. 35]

Para salafus shalih yang beramal dalam diam, merasa begitu takut amalnya tidak diterima dan merasa sangat sedikit dalam beramal.

Dari Ibnu Syaudzab diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Tatkala sakaratul maut menjemput Abu Hurairah, beliau menangis. Orang-orang bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Beliau menjawab, ‘Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya aral rintangan. Sementara tempat kembali, mungkin ke surga, atau mungkin ke neraka’.” [📚Meneladani Akhlak Generasi Terbaik, hal 29].

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merasa bekal yang ia punya, yakni amal di dunia amatlah sedikit. Ia pun tak yakin tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.

Siapakah Abu Hurairah? Abu Hurairah ialah sahabat yang banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tercatat lebih dari 5000 hadits telah ia riwayatkan. Hadits-hadits itu pun masih kekal hingga kini, dihafal dan diamalkan oleh banyak manusia. Berapa banyak pahala akan mengalir ke Abu Hurairah berkat jasanya yang luar biasa tersebut? Tentu amat banyak. Namun, rasa khasyah beliau amat besar, sehingga merasa bekal menuju akhirat amat sedikit. Maa syaa Allah.

Bandingkan dengan kita yang kualitas dan kuantitas amalnya tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan beliau, terkadang merasa sangat yakin amal diterima. Merasa tenang-tenang saja dengan amal yang belum pasti bernilai atau tidaknya di sisi Allah.

Maka, saudaraku, jangan kau tertipu dengan amalmu. Takutlah amalmu tak diterima karena tak terpenuhinya ikhlas dan ittiba’. Takutlah dengan berbagai hal yang akan merusak amalmu dan menjadikannya tidak bernilai di sisi Allah. Sertakan rasa harap, panjatkan do’a agar amal diterima oleh Allah Ta’ala.

Jangan kau tertipu dengan amalmu, merasa sudah shalat lima waktu, shalat rawatib, shalat tahajud, shalat dhuha, namun tak khusyuk kau jalankan shalatmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ صَلَاتَهُ؟ قَالَ: لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا وَلَا خُشُوعَهَا

“Sesungguhnya orang mencuri yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya.” Sahabat bertanya, “Bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan rukuk, sujud, dan khusyuknya.” [📓HR. Ahmad, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami, no. 986].

Jangan kau tertipu dengan amalmu, merasa sudah puasa Ramadhan, puasa sunnah Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh, namun masih kau bermaksiat di dalamnya. Betapa banyak dari manusia yang mudah terjerumus kepada dosa lisan, pun begitu pada saat berpuasa.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلُ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ عَزَّوَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta sewaktu berpuasa maka Allah tidak menerima puasanya meskipun dia telah meninggalkan makan dan minumnya.” [📓HR. Bukhari 4/99].

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ، فَإِنْ شَابَكَ أِحَدٌ أَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنّي صَا ئِمٌ، إِنِّي صَائٌمٌ

“Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah: ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’.” [📓HR. Ibnu Khuzaimah 1996, Al-Hakim 1/430-431, sanadnya shahih].

Jangan kau tertipu dengan amalmu, merasa sudah banyak melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, namun tak kau tadabburi maknanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah raihanah, baunya sedap, tetapi rasanya pahit.” [📓HR. Bukhari dan Muslim].

Sekedar membaca Al-Qur’an tanpa memahami dan mentadabburi dapat dilakukan oleh orang munafik maupun orang mukmin. Para ulama mengatakan, memahami dan mentadabburi Al-Qur’an semestinya membuahkan keimanan dan keimanan adalah amalan terbaik.

Semoga kita dapat senantiasa meningkatkan kualitas amal sehingga menyebabkan diterimanya amal kita di sisi Allah Ta’ala…Aamiin…

Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi :
Fawaidul Fawaid (Terjemah), Ibnu Qayyim al-Jauziyah, tahqiq : Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.

Meneladani Akhlaq Generasi Terbaik, Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil dan Baha’uddin bin Fatih Uqail, cetakan Darul Haq, Jakarta.

Membaca Al-Qur’an untuk Direnungkan dan Diamalkan, Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc, https://rumaysho.com/3641-membaca-al-qur-an-untuk-direnungkan-dan-diamalkan.html

Penulis : Bini Arta Utama

Artikel : muslimah.or.id

Advertisements

JANGAN SAMPAI ADA RIYA’ DAN UJUB DI HATIKU

Photo

JANGAN SAMPAI ADA RIYA’ DAN UJUB DI HATIKU

Bismillaah…

Kemajuan teknologi serta perkembangan media sosial sudah menjadi hal yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia, tak jarang setiap moment atau kesempatan diabadikan kemudian diunggah di sosial media.

Tak hanya itu, terkadang ibadah yang sedang dilakukan pun tak luput menjadi bahan unggahan, meskipun kita tidak tahu apa motivasi di balik unggahan-unggahan tersebut. Sehingga privasi antar individu saat ini sudah semakin memudar karena setiap saat (ada masalah atau tidak) dapat diketahui banyak orang melalui unggahan-unggahan yang dilakukan.

Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Terlebih bagi seorang wanita, saat pujian datang (apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya) tentulah hati akan bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, dan senang seakan-akan memenuhi relung hatinya. Itu manusiawi, namun jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.

Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niat pun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.

Di lain sisi terkadang tanpa sadar kita merasa telah banyak berbuat baik untuk Islam dan kaum muslimin, kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasul-Nya dan Al Qur’an, lalu hati kita menganggap remeh orang yang tak seperti diri kita, bersikap ujub tanpa sadar bahwa kita bukan apa-apa dibandingkan dengan kuasa-Nya.

PERBEDAAN ANTARA RIYA’ DAN UJUB

Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan pelajaran berharga mengenai perbedaan antara riya’ dan ujub (takjub akan diri sendiri).

Beliau rahimahullah menjelaskan, bahwa betapa seringnya riya’ dan ujub saling bergandengan. Perlu diketahui bahwa riya’ berarti menyekutukan atau menyandingkan dengan makhluk. Sedangkan ujub berarti menyandingkan dengan jiwa yang lemah. Ujub ini adalah keadaan orang-orang yang sombong.

Orang yang berbuat riya’ tidak merealisasikan firman Allah Ta’ala,

إيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah.” [📑QS. Al Fatihah : 4]

Sedangkan orang yang merasa ujub pada diri sendiri tidak merealisasikan firman Allah Ta’ala,

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.” [📑QS. Al Fatihah : 4]

Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah,

إيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah”, maka ia akan terlepas dari riya’ (karena ia akan beribadah pada Allah semata).

Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah,

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan”, ia akan terlepas dari sifat ujub (takjub pada diri sendiri).

Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) sifat pelit yang ditaati (2) hawa nafsu yang diikuti, kekaguman seseorang pada dirinya sendiri” [📓HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, 5/328. Dihasankan Al Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 3045 ].

Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi. Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal ? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya“ [📓H.R Ahmad dalam Musnad-nya. Dihasankan oleh Al Albani Shahiihul Jami’ no.2604]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa riya’ termasuk syirik khafi yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena riya’ terkait dengan niat dan termasuk amalan hati, yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Tidak ada seseorang pun yang mengetahui niat dan maksud seseorang kecuali Allah semata.

Hadist di atas menunjukkan tentang bahaya riya’, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir riya’ menimpa para sahabat yang merupakan umat terbaik, apalagi terhadap selain mereka. Kekhawatiran beliau lebih besar daripada kekhawatiran terhadap ancaman fitnah Dajjal karena hanya sedikit yang dapat selamat dari bahaya riya’ ini. Fitnah Dajjal yang begitu berbahaya, hanya menimpa pada orang yag hidup pada zaman tertentu, sedangkan bahaya riya’ menimpa seluruh manusia di setiap zaman dan setiap saat. [📚I’aanatul Mustafiid, II/90].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” [📓HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid dalam At-taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303].

Bila kita merasa telah menjadi orang yang baik saja dianggap ujub, sebagaimana ditanyakan kepada Aisyah radliyallahu anha siapakah orang yang terkena ujub, beliau menjawab : “Bila ia memandang bahwa ia telah menjadi orang yang baik” [📚Syarah Jami As Shaghir]. Bagaimana bila disertai dengan menganggap remeh orang lain ? Inilah kesombongan.

BELAJAR DARI PARA SALAF

Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika hati mereka terkena ujub (bangga diri).

Dari Wahab bin Munabbih diriwayatkan bahwa ia berkata, “Camkan tiga hal yang kusampaikan : Waspadalah tehadap hawa nafsu yang dituhankan, teman yang jahad, dan ujub dengan diri sendiri.” [📚Siyar A’laamin Nubalaa, 4/549]

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Kalau kamu mengkhawatirkan sikap ujub atas amal perbuatanmu, ingatlah keridhaan Allah yang menjadi tujuan amalmu, di alam kenikmatan mana engkau hendak berlabuh dan dari siksa mana engkau hindarkan dirimu. Karena barangsiapa yang mengingat semua itu, semua amalannya akan tampak kecil di matanya.” [📚Siyar A’laamin Nubalaa, 10/42]

Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’ dan melindungi kita dari ujub serta kesombongan. Semoga Allah menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga niat dari setiap amalan yang kita lakukan. Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wallahu a’lam.

Penulis : Ratna Dwi Ariyani
Muraji’ : Ustadz Yulian Purnama
Sumber artikel : http://muslimah.or.id

Empat Racun Hati

Photo

Empat Racun Hati:

A. Berlebihan dalam bicara
Rasulullah صلى اللهعليه وسلمbersabda:
مَنْ كانَ يَؤمِنْ بِااللهوَاليَوْمِ اْلآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْلِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yg beriman kpd Allaah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yg baik atau diam”. [HR. Al-Bukhari no 6018,6138, Muslim no 47, dan At-Tirmidzi no.2500).
.

B. Berlebihan dalam makan.
Allaah Ta’ala berfirman.
وَ كُلُوْاوَاشْربواْولاتُسْرِفُوا إنه، لايحبّ المشرفين
…… “Makan dan minunlah, ttp jangan berlebihan. Sungguh, Allaah tdk menyukai org yg berlebih lebihan”. (QS. Al- A’raaf:31)
.
Org yg banyak makan maka banyak tidur, lalai dan malas belajar, malas mengaji, dan malas beribadah kpd Allaah ta’ala karena banyak makan dan banyak tidur.
.

C. Berlebihan dalam memandang
Nabi صلى اللهعليه وسلم berpesan kpd ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu
“Wahai ‘Ali! Janganlah engkau mengikuti suatu pandangan dengan pandangan lainnya karena yg pertama untukmu dan yg kedua bukan untukmu”. (HR. Abu Dawud no 2148, dan At Tirmidzi no 2777)
Memandang dan melihat ssuatu yg diharamkan, menonton televisi, film, membaca koran, majalan dan buku buku(porno) semuanya akan merusak hati, akan dan agama seseorg.
.
Yang harus diperhatikan olh stiap muslim dan muslimah bahwa acara acara televisi dan film film yg ada dan disaksikan olh kebanyakan org org skrng ini acaranya 90% lebih dlm tontonan yg tdk bermanfaat, lebih merusak hati, dan agama.
.

D. Berlebihan dalam bergaul
Tentang bergaul, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“Seseorg itu tergantung dari agama sahabat karibnya, maka hendaklah slh seorg diantara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat karib”. (HR. Abu Dawud no 4833, At tirmidzi no 2378, Ahmad (II/303,304) dan al Hakim (IV/171).
.
Org yg pandai bergaul adalah org yg bergaul dg org org yg dpt menyelamatkan dirinya dari kemurkaan dan siksa Allaah ta’ala. Dia bergaul dg org org shalih(baik) yg akan membawa dirinya pada ketaatan. Maka, pandai pandailah dalam memilih teman agar kita selamat dunia dan akhirat.
.
📝Tazkiyatun Nufus (Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

rahma yani

Moderator

30 Kata-Kata Motivasi Kearah Istiqamah

istiqomah

Kata Kata Motivasi Istiqomah di Jalan Allah – Tidak seperti awal pertama kali hijrah ternyata berusaha istqomah itu lebih sulit dari apa yang dibayangkan. Ketika seorang muslimah memutuskan untuk berhijab misalnya apalagi bercadar, di pertengahan jalan ada saja ujiannya, mulai dari dikatain sok alim, dikatain kayak emak-emak, teroris, kesulitan mencari pekerjaan dan lain sebagainya. Hal itulah yang membuat muslimah pada akhirnya tidak istiqomah dengan pilihannya sendiri.

Semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerjang. Begitulah perumpamaan bagi seseorang yang berusaha tetap istiqomah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS Al-Ankabut [29]: 2-3)

Untuk menambah motivasi supaya kita tetap istiqomah, berikut ini adalah kata kata mutiara bijak yang mudah-mudahan dapat memberikan manfaat dan membantu kita dalam mejalankan segala perintah serta menjauhi larang-larangan dalam agama islam.

1. Tidak selamanya yang buruk itu buruk, karena ada orang yang menjadi baik di akhir hayatnya, lalu masuk surga. Tidak selamanya pula yang baik itu baik, karena ada juga yang tiba-tiba di akhir hayatnya menjadi buruk, lalu masuk neraka. Semoga kita termasuk yang Istiqomah sampai akhir hayat.

2. Dibalik kata istiqomah ada perjuangan yang kuat, pengorbanan yang banyak, dan doa yang tidak pernah berhenti

3. Datangnya kematian tidak menunggu anda istiqomah. Namun, istiqomahlah sambil menunggu datangnya kematian.

4. Jalan Allah itu Panjang, akan tetapi Kita Menempuhnya layaknya Kura-Kura. dan tujuannya bukanlah dengan engkau sampai pada ujung jalannya, tetapi tujuannya ialah dengan engkau mati di atas jalan tersebut. -Syaikh al-Albaniy

6. Tetaplah istiqomah pasti akan indah pada waktunya.

7. Shalihah, selipkan doa untukku dan para muslimah pejuang tangguh, agar tetap istiqomah bersama-sama menggapai jannahNya.

8. Betapa banyak kegetiran dan kesulitan yang dialami, yang bisa memalingkan jalan ibadah. Kecuali untuk orang-orang yang bersabar dan selalu istiqomah. -erickyusuf

9. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memproleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS Fushilat: 30)

10. Hijrah dulu, istqomah kemudian. Memang berat tapi coba saja dulu. Toh, nanti jika sudah merasakan pasti ketagihan.

11. Siapa pun kita di masa lalu bukan berarti kita tidak berhak menjadi muslim/muslimah yang lebih baik berhijrahlah, berubahlah, walau sejengkal demi sejengkal jangan tunggu hari esok.

12. Wahai diri, istiqomahlah. Biar pelan yang penting konstan. Biar sedikit, yang penting rutin. Kalau mulai lelah, ingatlah Allah. Ingat bagaimana awal mula ingin hijrah dulu.

13. Amalan yang bagaimanakah yang paling disukai Allah? Rasulullah menjawab, “Amalan yang dikerjalan secara tetap walaupun sedikit (HR. Muslim)

14. Istiqomah itu berat, yang ringan namanya istirahat.

15. Jangan puji aku sholeha cukup doakan istiqomah karena iman sifatnya naik turun begitu pula dengan hati mudah berbolak-balik. -yannie_gisselya

16. Teruslah berlari, teruslah berjalan, teruslah merangkak karena setiap usah kita Allah selalu melihatnya. -anna

17. Kita gagal mendidik diri istiqomah kerana terlalu banyak perkara yang telah menghitamkan hati. -santapanminda

18. Berbuat salah itu wajar, karena mereka yang tak pernah berbuat salah adalah mereka yang tak pernah mencoba sesutu yang baru.

19. Hidup adalah proses, hidup adalah belajar, tanpa ada batas umur, tanpa ada kata tua. Jatuh berdiri lagi, kalah mencobah lagi, gagal bangkit lagi. “Never give up and keep istiqomah” sampai Allah berkata “Waktunya pulang”.

20. Istiqomah itu sulit. Ikhlas itu berat. Kenapa? Karena balasannya surga, sebab itulah iman yang terbaik. -fiqihcinta

21. Hijrah karena Allah akan menumbuhkan rasa istiqomah perlahan-lahan.

22. Berubah itu sukar, tapi yang lebih sukar adalah beristiqomah dengan perubahan diri, hanya yang berkeazaman kukuh teguh meneruskan.

23. Istqomah is not easy, but i will do my best, Insya Allah!

24. Sahabat sholeh/sholehah adalah kunci istiqomah dalam hijrah -tausiyahcinta

25. Jangan kau gadaikan prinsipmu hanya demi lembaran rupiah. Karena auratmu adalah maruah. Ladang rezeki masih melimpah, penolakan atas pakainmu yang sesuai syariah adalah bagian dari cara Allah menguji niat istiqomah. -dakwahmuslimah

26. Jangan berputus asa tetap semangat walaupun semua memang berat, yakin atas apa yang kita kerjakan. Tetap berdoa dan berusaha. Semua kemudahan dari Allah datang berdasarkan keyakinan kita.

27. Biar rebah jangan berubah. Biar terbuang terus bejuang. Ujian adalah tarbiyah dari Allah ta’ala. Semakin dekat kepadaNya, semakin kuat ribut taufan melanda. Usah resah bila diuji pasti kebahagiaan bakal dimiliki karena janji Allah itu pasti.

28. Andai perjuangan ini mudah pasti ramai menyertainya. Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan, pasti ramai yang tertarik padanya. Tapi hakikat perjuangan bukan begitu. Turun naiknya, sedikit pedihnya, umpama kemanisan yang tak terhingga. Andai rebah, bangkit lagi semula. Andai terluka, ingatlah janjinya.

29. Ubah kata Lelah itu menjadi Lillah, agar menjadi lebih berkah karena Allah menyukai hambaNya yang pekerja keras namun tetap taat kepadaNya -fun_fress

30. Seseorang akan diuji terus menerus sehingga dia berjalan di muka bumi ini bersih dari dosa-dosanya (HR. Bukhari).

31. Cinta itu kaya ibadah di bulan ramadhan, bukan tentang siapa yang lebih banyak, siapa yang lebih dahulu tapi tentang siapa yang istiqomah hinga akhir -eskurrr

32. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu. (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Selamat Hari Raya Aidul Fitri Serta Maaf Zahir Dan Batin Dari Ihya Assunnah Solution Kepada Insan-Insan Mulia yang telah banyak membantu umat Islam di Selatan Kemboja. عيد المبارك وكل عام  وانتم بخير

 

MOHON SUMBANGAN IKHLAS BAGI MERINGANKAN BEBAN UMAT ISLAM DI SELATAN, KEMBOJA YANG MENDAPAT UJIAN ALLAH SWT

 

KELEBIHAN WAKAF DAN BERINFAQ HARTA JALAN ALLAH SWT.

 

Allah ta’aala menjanjikan kelebihan dan keutamaan di sebalik kedermawanan seseorang yang rajin berinfaq.

 

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

 

“Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan apa sahaja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ ayat 39)

 

Bahkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW  menggambarkan keuntungan yang bakal diraih seseorang yang rajin berinfaq di pagi hari sekaligus kerugian yang bakal dideritanya bilamana ia tidak peduli berinfaq di pagi hari.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (البخاري)

 

Tidak ada satu  subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat.        Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerosakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhary 5/270)

 

Jom berinfaq  dan berwaqaf  di Jalan Allah SWT melalui Ihya Assunnah Solution

Bantulah warga muslim Melayu Champa di pendalaman Selatan Kemboja, semoga dengan sumbangan tersebut membuat Allah SWT membuka pintu rezeki buat tuan dengan melimpah ruah in sya Allah.

 

Besarlah Harapan Kami Umat Islam Melayu Champa Di Selatan, Kemboja  Kepada Saudara-Saudari  Seagama Untuk Menderma  RM10 Bagi Bagi Meringankan Beban Umat Islam Islam Di Selatan, Kemboja Yang Mendapat Ujian Allah Swt

 

. Hulurkan sumbangan ikhlas anda melalui Ihya Assunnah Solution Maybank 553131011505 – Sumbangan Anda Lambang Kekuatan Pertalian Ukhuwah Islamiah Seaqidah Dan Lambang Ketinggian Iman Anugerah Allah SWT Yang Tidak Dapat Dinilai Oleh Makhluk Ciptaan Allah SWT. Hanya Allah SWT Sahaja Yang Mampu Membalas Setiap Sen Yang Anda Sumbangankan Di Jalan Nya.
Mohon hantar salinan slip bank in ke talian +6 0199576237(Ustaz Amin) http://ipkkelantan.wasap.my

atau emaikan ke ihyaassunnah68@gmail.com untuk direkod maklumat yang anda sumbangankan. Jazakumullahu Khairul Jaza’ Fiddunya WalAkhirah Ya Mujiibas Sailiin….

Sila kunjungi kami

https://muslimcambodiablog.wordpress.com/2017/12/29/asian-fondatiaon-for-education-and-development/

https://peribadirasulullah.wordpress.com/2018/02/03/melayu-champa-cambodia/

https://wordpress.com/post/peribadirasulullah.wordpress.com/46725

https://peribadirasulullah.wordpress.com/2018/03/03/ihya-assunnah-solution-menunaikan-amanah-warga-malaysia-di-sihanoukville-selatan-kemboja/

Pengenalan Ihya Assunnah Solution

https://www.youtube.com/watch?v=13Gi0MilEa0

Misi Menyampaikan Bantuan Ke Selatan Kemboja 2017

https://www.youtube.com/watch?v=64UO1RimxQI

Jutaan Terima Kasih Dan Ucapan Setinggi-tinggi Penghargaan Kepada Insan-Insan Mulia Yang Telah Menderma- Amanah Tuan-Puan Akan Kami Tunaikan – Semoga Amalan Kita Diterima Oleh Allah SWT… Amin Ya Allah, Terimalah Amalan Kami…..

Wahai Sahabat-Sahabtku, Kami meminta kepada kalian sedikit sumbangan dari kalian kerana kami dengar pesanan Allah SWT, bahawa pada harta kalian ada bahagian untuk kami iaitu zakat untuk fakir miskin dan ibnu sabil…

 

Salam Teramat Rindu Buat Ramadhan 2018