Arkib Kategori: Peribadi Rasulullah SAW

Sejarah ringkas kehidupan Rasulullah SAW

Photo

Riwayat Hidup Lengkap Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh……..
Sebagai umat muslim dan orang islam pasti tahu siapa Nabi terakhir yang mendapatkan wahyu dr Allah SWT untuk menyebarkan agama islam.
Namun tidak semua orang tahu , bagaimana kisah kehidupan NABI MUHAMMAD SAW yang sangat Mulia itu.
Sebagai umat islam yang mencintai Nabi muhammad saw, alangkah senangnya bisa mengetahui sedikit kisah kehidupan Baginda Nabi Muhammad saw
Diambil dari buku kisah kisah Nabi
Inikah kisah kehidupan Nabi Muhammad saw:

Nabi Muhammad s.a.w. adalah anak Abdullah bin Abdul­ Muttalib. ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kedua orang tua­nya itu berasal dari suku Quraisy yang terpandang dan mulia. Nabi Muhammad s.a.w. lahir pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah (atau, 20 April 571 Masehi). Dinamakan tahun Gajah, karena ketika beliau lahir, kota Makkah diserbu oleh Raja Brahah dan tentaranya dari negeri Habasyah dengan menunggang gajah. Mereka hendak menghancurkan Ka’bah karena iri hati terhadap­nya. Tetapi Allah melindungi bangunan suci itu dan seluruh pen­duduk Makkah, dengan menjatuhkan batu-batu Sijjil (dari neraka) yang amat panas kepada tentara itu. Maka binasalah mereka semuanya.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih. di dalam kandungan ibunya, Abdullah, ayahnya, pergi ke negeri Syam (Siria) untuk berdagang. Tetapi, sepulang dari sana, ketika sampai di kota Madinah, ia menderita sakit dan wafat dalam usia 18 tahun. Abdullah dimakamkan di kota Madinah. Maka, Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan ke dunia dalam keadaan yatim, di tengah-tengah masyarakat jahiliyah penyembah berhala, penindas kaum lemah, perampas hak orang, dan bahkan membunuh kaum wanita.
HALIMAH AS-SA’DIYAH MENJADI IBU SUSU NABI
Sudah menjadi adat bangsa Arab ketika itu, bahwa bayi seseorang disusukan kepada wanita lain. Begitu pula halnya Nabi Muhammad s.a.w. Beliau disusukan kepada seorang wanita dusun bernama Halimah as-Sa’diyah. Empat tahun lamanya beliau tinggal di dusun Bani Sa’ad bersama ibu susunya itu. Selama memelihara Nabi Muhammad, keluarga Halimah as-Sa’diyah memperoleh limpahan rezeki dari Allah SWT, sebagai berkah.
Menjelang usia lima tahun, Halimah as-Sa’diyah mengembalikan Nabi Muhammad s.a.w. kepada ibunya; karena telah terjadi peristiwa atas anak asuhnya itu yang mencemaskan hatinya. Ketika di dalam permainan bersama kawan-kawannya, Nabi Muhammad s.a.w. tiba-tiba didatangi dua laki-laki berpakaian serba putih, membaringkannya, kemudian melakukan sesuatu atas dada anak tersebut. Meskipun tidak sesuatu pun terjadi atas Nabi Muhammad s.a.w. setelah peristiwa itu, namun Halimah as-Sa’diyah amat khawatir. Maka segera ia bawa Nabi Muhammad s.a.w. kem­bali kepada keluarganya di Makkah.
DI BAWAH ASUHAN KAKEKNYA, ABDUL-MUTTALIB
Siti Aminah amat setia terhadap suaminya. Sering kali ia bersama anaknya pergi ke Madinah untuk berziarah ke makam suaminya, sekaligus bersilaturrahmi kepada keluarganya, Bani Najjar, di sana.
Suatu kali, dalam perjalanan pulang dari Madinah, seusai ber­ziarah, Siti Aminah jatuh sakit di desa Abwa’ (antara Makkah dan Madinah). Beberapa saat kemudian, ia wafat di sana, meninggal­kan Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu barn berusia 6 tahun. Maka jadilah Nabi Muhammad s.a.w. yatim-piatu.
Bersama Ummu Aiman, pembantunya, Nabi Muhammad s.a.w. kembali ke Makkah. Beliau kemudian dipelihara oleh kakek­nya, Abdul-Muttalib, hingga menjelang 9 tahun.

DI BAWAH ASUHAN PAMANNYA, ABU THALIB
Selama tiga tahun bersama kakeknya, Nabi Muhammad s.a.w. akhirnya dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib, karena kakeknya itu meninggal dunia. Abu Thalib adalah seorang sesepuh kaum Quraisy yang disegani oleh kaumnya. Meskipun demikian, dia bukanlah tergolong orang yang kaya. Abu Thalib hanyalah seorang pedagang biasa yang wring merantau ke negeri Syam ber­sama serombongan kafilah dagangnya.
Ketika berusia 12 tahun, Nabi Muhammad s.a.w. diajak oleh pamannya itu pergi berdagang, ke Syam. Sampai di suatu dusun perbatasan Syam, Abu Thalib bersama kemenakannya itu singgah di rumah seorang pendeta Nasrani yang saleh, bernama Bahira. Dari kitab Taurat dan Injil yang dipelajarinya, pendeta Bahira dapat mengetahui ciri-ciri kenabian yang ada pads diri Nabi Muhammad yang masih kecil itu. Maka, dengan Berta-merta, pendeta Bahira memberitahLikan hal itu kepada Abu Thalib seraya berkata: “Wahai saudaraku, sesungguhnya anakmu ini adalah manusia pilihan Allah, calon pemimpin umat manusia di clunia ini. Maka jagalah ia balk-balk. Bawalah ia kembali, sebab aku khawatir ia diganggu oleh orang-orang Yahudi di negeri Syam. Bahkan, jika sekiranya kaum Yahudi itu mengetahui bahwa ia adalah calon Rasul –Allah, maka tentulah ia akan membunuhnya.” Maka pulang­lah Abu Thalib ke Makkah bersama Nabi Muhammad s.a.w. se­belum mereka sampai ke negeri Syam.
BERDAGANG KE NEGERI SYAM
Setelah Nabi Muhammad s.a.w. berusia hampir 25 tahun, Abu Thalib merasa bahwa kemekanannya itu telah cukup dewasa. Maka dipanggilnya Nabi Muhammad, lalu ditawarkanlah kepada­nya suatu pekerjaan yang menguntungkan, seraya berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya kita bukanlah keluarga yang berkecukupan. Bahkan, kurasakan akhir-akhir ini kebutuhan kita semakin sulit didapat. Alangkah baiknya jika engkau pergi kepada Khadijah untuk meminta izinnya membawa barang-barang dagangannya ke negeri Syam. Mudah-mudahan dari usaha itu engkau akan beroleh keuntungan yang besar.”
Nabi Muhammad s.a.w. menyetujui usul pamannya, sebab beliau memaklumi sepenuhnya akan kesulitan yang dihadapi pamannya itu dalam menanggung beban belanja rumah tangganya. Segera beliau pergi kepada Siti Khadijah untuk meminta izinnya memperdagangkan barang-barangnya. Siti Khadijah adalah seorang janda kaya di Makkah. la dikenal sebagai wanita Quraisy yang mulia karena keturunan dan akhlaknya. la adalah wanita budiman, gemar membantu sesamanya, dan senantiasa menjaga kehormatan dirinya, sehingga mendapat gelar At-Thahirah (Wanita Suci).

Menanggapi permohonan Nabi Muhammad s.a.w., Siti Kha­dijah tanpa pikir panjang langsung menyambutnya dengan senang hati, karena ia telah cukup mengenal Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemuda yang ramah , jujur, clan sopan-santun. Maka be­rangkatlah Nabi Muhammad s.a.w. ke negeri Syam, ditemani oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Pulang dari Syam, Nabi Muham­mad memperoleh keuntungan amat besar, yang belum pernah di­capai oleh para pedagang lain. Siti Khadijah amat kagum terhadap pemuda Muhammad. Lebih-lebih ketika ia mendengar sendiri dari Maisarah, bagaimana agungnya perangai Nabi Muhammad selama di perjalanan maupun ketika berdagang. Maka berubahlah rasakagum itu menjadi rasa cinta.
PERKAWINAN NABI MUHAMMAD DENGAN SITI KHADIJAH
Hubungan perdagangan antara Nabi Muhammad s.a.w. de­ngan Siti Khadiiah akhirnya diteruskan ke jenjang perkawinan. Rupanya, Allah SWT menghendaki demikian, karena ada banyak hikmah di batik itu. Dalam suatu upacara yang sederhana, di­langsungkannya akad nikah antara keduanya, suatu pernikahan yang telah menoreh lembaran sejarah Islam. Ketika itu, Nabi Mu­hammad s.a.w. berusia 25 tahun, sementara Siti Khadijah telah berusia hampir 40 tahun. Perkawinan ini membuahkan empat anak putri dan dua orang putra, masing-masing Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah, Qasim, dan Abdullah. Tetapi, atas kehendak Allah SWT, kedua anak laki-laki beliau wafat ketika masih kanak-kanak.
MEMPEROLEH GELAR “AL-AMIN”
Ketika Nabi Muhammad berusia 35 tahun,di Makkah terjadi bencana banjir sehingga merusakkan sebagian dinding Ka’bah. Setelah usai bencana, kaum Quraisy beramai-ramai memperbaiki dinding Ka’bah yang runtuh itu. Pada saat pekerjaan telah selesai, clan tinggal Hajar al-Aswad (batu hitam) yang mesti dikembalikan di tempatnya semula, terjadilah perselisihan di antara mereka. Masing-masing suku ingin memperoleh kehormatan dengan me­letakkan Hajar al-Aswad itu di tempatnya. Hampir saja terjadi per­tumpahan darah di antara merreka. Tetapi, tiba-tiba salah seorang berkata: “Wahai kaumku, janganlah kalian saling bermusuhan karena ini. Sebaiknya kita tunggu saja esok pagi, siapa yang per­tama kali datang ke pintu Masjid ini, dialah yang berhak meng­ambil keputusan.”
Pagi-pagi keesokan harinya, kaum Quraisy mendapati bahwa orang yang pertama kali masuk ke pintu Masjid adalah Nabi Mu­hammad s.a.w. Maka bersoraklah mereka menyambutnya, karena mereka yakin akan kejujuran pemuda Muhammad. Jadilah Nabi Muhammad s.a.w. sebagai hakim yang memutuskan perkara Hajar al-Aswad itu.
Nabi Muhammad s.a.w. kemudian menggelarkan kain surban­nya di atas tanah dan meletakkan Hajar al-Aswad di atasnya. Lalu, kepada masing-maing kepala suku, beliau memerintahkan untuk memegang tiap-tiap ujung kain itu dan mengangkatnya. Sampai diatas, beliau lalu mengangkat batu suci dengan tangannya sendiri, dan meletakkannya di tempatnya semula. Dengan cara itu, seluruh kaum Quraisy merasa puas, dan berseru: “Kami rela atas keputus­an yang dibuat oleh orang yang dipercaya ini!”
Sejak itu, Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelar “Al-Amin”, artinya “Yang Dipercaya”.

WAHYU YANG PERTAMA
Pada usia 40 tahun, Muhammad sering bertahanus di Goa Hira. yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan. Tepat pada tanggal 1-17 madhan datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama. Mula-mula Muhammad ketakutan, tubuhnya gemetar melihat kedatangan Malaikat Jibril. Jibril kemudian merangkulnya, ia makin ketakutan, tubuhnya menggigil. Sesudah dilepas Jibril berkata : bacalah!”
“Aka tidak bisa membaca!”JawabMuhammad
Jawaban itu diulang hingga tiga kali. Akhirnya ia berkata kepada Jibril : “Apa yang kubaca?”
Kemudian Jibril membacakan suratt Al-Alaq dari ayat 1-5., Sesudah itu ia pulang ke rumah dengan tubuh gemetar. la disambut Istrinya Khadijah yang sangat setia dan memperhatikannya ia diselimuti oleh Khadijah dan dihibur degan kata-kata yang menentramkan jiwanya.
lalu Khadijah pergi berkonsultasi dengan anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal. Warakah memberitahukan bahwa yang datang kepada Muhammad itu adalah Jibril yang pernah datang kepada Musa. Jadi Muhammad akan diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul.
WAHYU KEDUA
Sesudah wahyu yang pertama selama dua setengah tahun Rasulullah tidak mendapat wahyu lagi. la kuatir akan terputus, maka nenyepi ke goa Hira’ lagi. Ketika la menengadah ke langit tampaklah malaikat Jibril. la ketakutan dan segera pulang ke rumah. Minta kepada Hadijah supaya diselimuti. Dalam keadaan berselimut itu datanglah malikat Jibril menyampaikan wahyu kedua yang artinya:
“ hai orang yang berselimut! Bangunlah dan beri peringatan! Besarkanlah Nama Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu dan jauhilah perbuatan Maksiat, janganlah kamu member karena ingin memperoleh yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi perintah Tuhanmu.” (Al- Muddatstsir: 1-7)
Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa Muhammad diperintahkan menyampaikan Risalah-Nya. Yaitu menyembah Allah Yang Maha Esa.
DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI
Yang pertama kali diajak memeluk Islam adalah keluarganya sendin’dan oran–orang yang dekat dengannya. Pertama yaitu istrinya Hadijah. Kedua Ali bin Abi Thalib, lalu Zaid bin Haritsah. Setelah itu beliau mengajakteman akrabnya yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq.
Dengan berimannya Abu Bakar, maka banyaklah orang-orang yang kemudian mengikutinya. Antra lain: Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah, bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam. Fatimah bin Khattab. Mereka Inilah yang disebut golongan terdahulu yang masuk Islam atau “As Saabiqunal Awwalum”.
Mereka mendapat ajaran dan gemblengan keimanan dari Rasulullah di rumah Arqam bin Abil Arqam.

MENYIARKAN AGAMA SECARA TERANG-TERANGAN
Tiga tahun menyiarkan agama Islam secara sembunyi-sembunyi . kini datanglah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan.
Namun sebagaimana nabi-nabi terdahulu, ajakannya ditolak oleh sebagian besar kaumnya. Hanya sedikit yang mula-mula mau mangikuti ajaran Nabi Muhammad.Walau demikian Muhammad tetap sabar dan terus melakukan dakwah dengan bijaksana. Orang-orang kafir makin jengkel. Mereka mendatangi Abu Thalib, dan minta paman Nabi itu untuk menghentikan kegiatan Nabi mengajak manusia kembali kejalan yang benar.
Tetapi apa jawab Nabi: “Demi Allah wahai paman, sekiranya mereka meletakkan matahari di sebelah kananku, dan rembulan ditangan kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (mengajak manusia pada agama Allah) sehingga agama ini tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini.
Mendengar tekad keponakannya yang membaja itu, Abu Thalib berkata: “Pergilah dan katakan apa yang kamu kehendaki, demi Allah tidak akan menyerahkan kamu karena suatu alasan pun selama­-lamanya”.
PENGANIAYAAN TERHADAP RASULULLAH DAN PENGIKUTNYA
Melihat Rasulullah masih saja meneruskan dakwanya dan tarus menghina sesembahan mereka berupa patung bodoh yang tak bisa gerak dan berbicara maka orang-orang kafir itu mulai gatal. Terlebih setelah mereka amati makin banyak saja para pengikut Muhammad memeluk agama Islam. Maka mereka mulai menganiaya beliau.
Misalnya, ketika Nabi sedang shalat dan bersujud. di Masjidil Haram, tiba-tiba saja Abu Jahal mengangkat batu besar dan hendak dtimpakan kepada beliau. Tetapi niatnya tak kesampaian karena beliau dilindungi Allah yang mengirim malaikat Jibril. Tubuh Abu Jahal gemeter, ketakutan dan pucat pasi.
Beliau juga pemah dilempari kotoran unta di atas kuduknya. Ketika beliau pulang ke rumah ditaburi debu dan pasir pada mukanya. Yang keterlaluan adalah perbuatan Uqbah bin Abi Muith, ketika beliau shalat masjidil Haram tiba-tiba orang kafir itu menjerat leher beliau dengan selendangnya sehingga beliau tidak berdaya untuk melepaskannya. untunglahlah pada saat itu muncul Abu Bakar. la langsung memotong uqbah dan menghempaskannya dari Rasulullah.
Beberapa pengikut beliau Yang mendapat siksaan dari orang kafir antara lain: Bilal bin Rabah, yaitu seorang budak milik Ummayyah half. Bilal ditelentangkan di atas terik matahari padang pasir, ditubuhnva ditindihkan batu besar. la dipaksa supaya meninggalkan Islam namun is tetap teguh dan imannya bertambah tebal.
Bilal akhimya dibebaskan oleh Abu Bakar yang membelinya dari Umayyah bin Khalf.

Sahabat lain yang disiksa di luar batas perikemanusiaan adalah Amar bin Yasir beserta kedua orang tuanya. Mereka disiksa pada waktu Dhuhur yaitu di saat terik-teriknya matahari memanggang padang pasir. Ketika Nabi lewat beliau menghibur mereka: “Bersabarlah hai keluarga Yasir, yang dijanjikan untuk kalian adalah surga”. Sahabat Habab bin Arats juga di siksa lebih kejam, lagi. la ditusuk-tusuk dengan besi panas pada punggungnya agar mening-galkan Islam, namun ia tetap tabah dan memilih Islam sebagai agamanya.

HIJRAH KE ETHIOPIA
Keganasan kaum kafir makin merajalela. Pengikut Rasulullah dan’ kalangan lemah makin banyak jumlahnya. Melihat penderitaanmereka Rasulullah tak sampal hati, maka Rasul kemudian menyuruh mereka hijrah ke Ethiopia.
Raja Habasah di Ethiopia temyata mau menenma kedatangan mereka dengan senang hati. Mereka mendapat perlindungan yang baik. Rombongan pertama terdiri 10 laki-laki dan 4 orang wanita. Rombongan kedua 100 orang, di antaranya terdapat Usman bin Affan, Zubair bin Awwam dan lain-lain.
Rasulullah tetap berada di Mekkah. Pada waktu itu masuklah pembesar Qurais kedalam Agama Islam yaitu Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthallib. Dengan masuknya dua orang jenderal perkasa itu pihak Quraisy makin kuatir kedudukannya akan merosot. Sedang pengikut Rasul semakin bertambah banyak.
EMBARGO TERHADAP BANI HASYIM DAN BANI MUTHALIB
Dengan berbagai cara kaum kafir tidak berdaya mematahkan gerakan Islam, maka cara terakhir yang menurut mereka cukup ampuh adalah mengadakan pemboikotan atau embargo terhadap keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib, sebab dua keluarga besar itulah yang senantiasa membela dan melindungi Nabi Muhammad.
Pemboikotan itu ialah dengan jalan memutuskan segala perhubungan, baik hubungan perkawinan, hubungan dagang atau jual beli dan ziarah menziarah.
Dengan adanya embargo tersebut terpaksa Nabi Muhammad dan para pengikutnya menyingkir keluar kota Mekkah. Dua tahun lamanya mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Sebenarnya banyak juga kaum Quraisy yang merasa sedih atas nasib yang menimpa Muhammad dan keluarganya. Diam-diam mereka mengirim bahan makanan dan pakaian pada malam hari. Akhirnya bangkitlah beberapa muka Quraisy untuk menghentikan pemboikotan itu. Mereka merobek-robek isi perjanjlan yang ditempelkan di Ka’bah.
Dengan demikian pulihlah keadaan seperti semula. Rasul dan keluarganya kembali ke kota Mekkah. Akan tetapi nasib para. Pengikut Rasul tidak bertambah baik, kaum kafir makin giat menindas dan menyiksa mereka.

TAHUN DUKA CITA
Hampir sepuluh tahun Islam tumbuh di Mekkah. Baru saja kaum Muslimin terlepas dari pemboikotan.Kini datang lagi cobaan berat dengan meninggalnya Khadijah dan disusul kemudian oleh Abu Thalib. Padahal kedua orang itu adalah tulang punggung pembela Islam.
Khadijah adalah istri setia yang selalu mendampingi Rasul dalam menyebarkan agama Islam. la salah seorang bangsawan Quraisy yang disegani oleh kaumnya.
Demikian juga Abu Thalib, wibawanya dikalangan Quraisy sangat besar. Kini setelah dua orang itu meninggal dunia pihak kafir Quraisy seperti mendapat angin segar. Mereka tak segan-segan lagi mengadakan gangguan terhadap Rasul dan para pengikutnya.
Karena kehilangan dua orang yang sangat dikasihi itu, maka tahunnya dinamakan Tahun Duka Cita.
DAKWAH DI THALIF
Karena masyarakat Mekkah tidak banyak yang mau menerima ajarannya. maka beliau pergi ke Thaif untuk berdakwa kepada orang­-orang bani Tsaqif. Beliau menuju tempat para pembesar yang berkuasa di Thaif. Beliau bicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah.
Tetapi ajakannya ditolak mentah-mentah dan dijawab dengan kasar sekali. Mereka malah mengusir beliau sambil menghujaninya dengan batu sehigga Zaid bin Haritsah yang ikut dalam misi itu terluka ketika bermaksud melindungi beliau. Beliau sendiri juga mengalami luka-luka akibat hujan batu itu.

SRA’ DAN MI’RAJ
Setelah gagal mengajak kaum Thaif untuk beriman kepada Allah, maka beliau kembali ke Mekkah. namun cobaan semakin berat. Ancaman dari sana-sini selalu mengintai.
Pada saat demikian terjadilah peristiwa besar di malam hari yang, terkenal dengan sebutan Isra’ dan Mi’raj. Yaitu perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian dilanjutkan ke Sidraftul Muntaha menembus langit yang tujuh.
Dalam perjalanan itu Rasui melihat berbagai peristiwa yang, dapat dijadikan i’tibar atau cermin teladan bagi umatnya.
Perjalanan itu sendiri adalah untuk memenuhi panggilan Allah. Yaitu untuk menerima kewajiban melaksanakan shalat lima waktu.
Peristiwa ini hanya terjadi pada waktu satu malam, yaitu pada malam 27 Rajab tahun 11 sesudah beliau diangkat menjadi Rasul.
Hikmah yang terkandung dalam Isra’ Mi’raj adalah untuk me­nambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai utusan Allah, yang diutus ke tengah-tengah umat manusia untuk membawa risa­lah-Nya. Dengan demikian akan bertambahlah kekuatan batin sewaktu menerina cobaan dan musibah serta siksaan dari kaum kafir.
Bagi umat Islam sendiri ini merupakan ujian keimanan mereka. Mereka bisa bertambah yakin akan kebenaran Rasul, atau malah bertambah kafir dan tidak mempercayai Rasul lagi.
ORANG YATSRIB MASUK ISLAM
Pada musim Haji datanglah Kabilah dari kalangan berbagai penjuru Menuju kota Mekkah. Di antara mereka yang datang ada jamaah orang Khazraj dan Yatsrib. Sebagaimana biasa musim haji Rasalullah melaksanakan ibadah haji.
Orang Khazraj sudah sering mendengar Kitab Taurat dari bangsa Yahudi yang menyebutkan bakal adanya Nabi akhir zaman bernama Ahmad atau Muhammad. Karena itu ketika Rasulullah menyaran­kan dakwahnya mereka langsung menerima dan mengimani.
Setelah mereka pulang ke Madinah mereka menyampaikanhal itu kepada saudara-saudaranya dan kerabatnya. Bahwa Nabi yang dijanjikan itu sekarang sudah datang ke negeri Mekkah.
Demikianlah setiap musim haji datang makin banyak pula orang-orang Yatsrib yang masuk Islam dan bersumpah setia akan membela ,Rasul dan agamanya. Dengan demikian sudah banyak sekali orang-orang Yatsrib yang memeluk agama Islam.
HIJRAH KE YATSRIB (MADINAH)
Mekkah sudah tidak aman lagi bagi Rasulullah dan pengikutnya, sementara orang-orang Yatsrib setiap hari semakin banyak yang masuk islam dan merindukan beliau hadir di tengah-tengah mereka.
Maka Rasulullah memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Yatsrib. Berangkatlah para pengikut Nabi, secara diam-diam ke (atsrib, mereka ikhlas meninggalkan harta benda dan rumah-rumah mereka demi memenuhi perintah Rasul. Sedang Rasulullah dan Abu Bakar akan menyusul di belakang hari.
Kabar tentang hijrah itu segera tercium oleh kaum kafir Qurais mereka sepakat untuk membunuh Rasulullah. Namun rencana mereka gagal. Allah melindungi Rasul-Nya. Setelah melalui berbagai rintangan sampailah Rasulullah di desa Quba yaitu sebuah tempat jaraknya 10 Kilometer dari Yatsrib.
Di Quba beliau mendirikan masjid, maka hingga sekarang masjid tersebut dinamakan Masjid Quba. Inilah masjid yang pertama kali di bangun umat Islam.
Setelah empat hari beristirahat di Quba beliau meneruskan perjalanannya ke Yatsrib. Di sana beliau disambut dengan hangat oleh para pengikutnya yang telah lama merindukan kedatangannya.
KEMENANGAN UMAT ISLAM
Ternyata dari Yatsrib Inilah Rasulullah dapat menyusun kekuatan dan membina masyarakat Islam dengan sempunna. Yastrib kemudian diubah namanya menjadi Madinatun Nabawiatau kemudian disebut Madinah.
Di Madinah ini beliau membentuk angkatan perang dan mem­bina strategi perang. Sejarah kemudian mencatat bahwa Muhamad strategi perang. hanya seorang Nabi dan Rasul tapi juga seorang Kepala Negara. ahli tata masyarakat, Panglima Perang yang tangguh dan seorang ayah yang pastas diteladani oleh putra-putrinya.
Sesudah terjadi Perang Badar, perang Uhud dan peperanglainnya. akhirya Mekkah pun jatuh dalam kekuasaan beliau.
Dengan jatuhnya Mekkah, maka hampir dekatlah tugas kerasulan beliau.
Sesudah melaksanakan haji wada’, pada tanggal 12 Maulud hari Senin tahun 11 Hijriyah beliau wafat meninggalkan umatnya. Dalam penanggalan Masehi bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 dalam usia 63 tahun.
Beliau dimakamkan di Madinah. Hingga sekarang makamnya selalu ramai diziarahi umat Islam dari seluruh dunia ketika mereka melaksanakan ibadah haji.
Beliua tidak meninggalkan warisan harta benda. Beliau hanya meninggalkan dua perkara yaitu Al-Qur’an dan As-SUnnah. Siapa pun umatnya jika tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. maka la tidak akin tersesat selama-lamanya.

PENAKLUKKAN KOTA MAKKAH
Setelah Islam menjadi besar di kota Madinah, Rasulullah s.a.w. bersama sahabat-sahabat dan seluruh pengikutnya kembali ke kota Makkah, dan merebut kembali kota itu dari tangan kaum kafir Quraisy. Kedatangan kaum Muslimin di Makkah itu bertepat­an dengan tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriah. Ketika itu, turunlah firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbon­dong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima Tobat”. (S. An-Nashr: 1-3)
Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersama para pengikutnya menghancurkan berhala-berhala yang ada di seputar Ka’bah, se­bagaimana firman Allah: “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (S. Al-Isra’: 81)
Dua tahun setelah penaklukkan Makkah, Nabi Muhammad s.a.w. beserta kaum Muslimin melaksanakan ibadah haji, yang disebut Haji Wada’ (Haji Perpisahan), karena setelah itu beliau meninggalkan umatnya untuk selama-lamanya. Di dalam kesem­patan terakhir itu, Rasulullah s.a.w. mengucapkan pidato yang amat bernilai di hadapan seluruh kaum Muslimin di Padang Arafah. Pada saat itu, turunlah wahyu Allah yang terakhir, yang berbunyi:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kurelakan Islam menjadi agamamu”. (S. Al- Ma’idah: 3)
NABI MUHAMMAD WAFAT
Dengan penuh rasa syukur, Nabi Muhammad s.a.w. meng­akhiri tugasnya sebagai seorang Rasul, dengan mengislamkan se­luruh penducluk Makkah, Madinah, clan daerah-daerah lain di seputar Jazirah Arabia. Setelah menderita sakit selama beberapa hari, pads tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah, beliau berpulang ke rahmatullah dalam usia 63 tahun. Nabi Muhammad s.a.w. dimakamkan di kota Madinah. Sebelumnya, beliau sempat berpesan kepada keluarganya, pars sahabatnya, clan seluruh kaum Muslimin dengan sabdanya yang termasyhur:
Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul-Nya.

Semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kita semua kepada Nabi Muhammad saw
Dan kita semua yang ada di google+ ini selalu mengikuti ajaran beliau untuk kita jadikan suri tauladan untuk kita terapkan dalam kehidupan kita
Semoga saja kira mati nanti dalam keadaan khusnul khotimah dan bisa bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad saw
Aamiin ya robbal alamin …..

Akhir kata mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan ini

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

Tangisan Rasulullah SAW terhadap wanita

Suatu ketika Ali bin Thalib bersama Fatimah, mendatangi Rasulullah SAW  dan melihat beliau sedang menangis. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah SAW menangis. Beliau menjawab; “Pada malam aku di-isra’-kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan di dalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena menyaksikan mereka disiksa dengan sangat berat dan mengerikan.”
Putri Rasulullah SAW itu, kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.
Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka,” kata Nabi SAW.
Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?
Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya.”
Perempuan yang digantung payudaranya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.
Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.
Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan mahramnya dan suka mengumpat orang lain.
Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan mahram dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan mahramnya.
Mendengar itu, Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.
Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuannya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat di depan orang lain.
Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya di alam jagat raya. Kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur`an dan hadits, balasannya adalah surga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al-Qur`an dan hadits, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.
Dalam sebuah hadits yang diwirayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda:
“Neraka diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.” (Hr. Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaannya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah ’Azza wa Jalla) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (Hr. Ibnu Khuzaimah no. 1685, Ibnu Hibban no. 5599, dan ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 2890, dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban)
Tabarruj akan membawa laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah SWT).” (Hr. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamush Shagir hlm. 232 dinyatakan shahih sanadnya dalam kitab Ilbaabul Mar`atil Muslimah hlm. 125)
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
“Wahai istri-istri Nabi, tinggallah kalian di rumah-rumah kalian. Janganlah kalian keluar rumah dengan berdandan ala perempuan-perempuan jahiliah sebelum Islam datang. Laksanakanlah shalat, keluarkanlah zakat dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah berkehendak menyelamatkan kalian dari semua perbuatan yang buruk, dan membersihkan jiwa kalian dari syirik sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab [33]: 33)
Astahgifurllahal ‘Aadziim
Semoga yang menulis Aamiin pada komentar dibawah ini terhindar dari siksa api neraka sangat pedih dan dosa2 kita diampuni oleh Allah SWT. Aamiin

Kisah Matahari Berhenti Sejenak

Photo

KISAH MATAHARI BERHENTI SEJENAK
#Ibroh

Bismillaahirrahmaanirrahiim

@ Allah Karim

Kisah Matahari Berhenti Sejenak
Karena Sayyidina ‘Ali

DIKISAHKAN dalam Kitab Hikmah “Usfuriyah.” Pada suatu saat menjelang shalat jamaah Subuh sahabat sayyidina “Ali” radhiyallahu ‘anhu bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat jamaah Subuh berjamaah bersama beliau baginda Nabi Muhammad “Rasulullah” Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam beserta para sahabat lainnya.

Namun sesampai dijalanan sayyidina “Ali” karamullahu wajhah mendadak melihat seorang “tua” didepanya yang jalannya sangat lamban karena sudah sangat tua renta. Sepontan sayyidina “Ali” karamullahu wajhah memelankan jalannya tetap dibelakang orang tua itu. Karena memuliakan orang tua yang ada didepanya. Sehingga waktu subuh sudah masuk.

Sesudah sampai didepan masjid ternyata orang tua itu tidak mengarah ke masjid. Dengan begitu sayyidina “Ali” karamullahu wajhah tahu bahwa orang tua itu sebenarnya orang Nasara.

Kemudian sayyidina “Ali” radhiyallahu ‘anhu masuk masjid untuk jamaah shalat Subuh, dan melihat baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam ruku`nya lama sehingga sayyidina “Ali” karamullahu wajhah bisa mengikuti shalat jamaah Subuh pagi itu.

Setelah shalat Subuh para sahabat penasaran dan bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam. Sahabat berkata;

“Wahai Rasulullah, mengapa ruku`nya lama, padahal biasanya tidak?”

Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam pun menjawab;

“Ketika aku ruku` dan membaca (bacaan ruku`), dan akan kuangkat kepalaku mendadak malaikat Jibril ‘alaihissalam datang meletakkan sayapnya dipunggungku sampai agak lama sampai sayap Jibril ‘alaihissalam diangkat aku bisa mengangkat kepalaku.”

Para sahabat pun penasaran kembali dan bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam;

“Mengapa semua itu engkau lakukan, Ya Rasulullah?”

Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam pun menjawab; “Aku tidak bertanya kepada Jibril.” Rasul belum mengetahui sebab belum bertanya karena sedang shalat.

Seketika itu datanglah Malaikat “Jibril” ‘alaihissalam menjelaskan dan berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam;

“Wahai Muhammad, sesungguhnya tadi (sayyidina) ‘Ali bergegas untuk melakukan jamaah di masjid, namun ditengah jalan didepanya mendapati orang tua Nasrani yang berjalan lambat didepanya. ‘Ali tidak tahu bahwa orang itu adalah orang Nasrani, ‘Ali berjalan lambat dibelakangnya tidak mau mendahului karena menghormat orang tua itu, dan aku diperintah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala menahan ruku`mu (Muhammad) sehingga ‘Ali bisa jamaah denganmu, dan itu bukannya sesuatu yang mengherankan, yang mengherankan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus Mikail ‘alaihissalam untuk menahan laju matahari karena ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, itulah derajat menghormati orang yang sudah tua renta walaupun tidak seagama (dengan kita).”

@ Allah Karim

KISAH iktibar yang banyak dapat bisa kita baca ini dari kitab “Hikmah ‘Usfuriah” dan kitab-kitab lainnya, betapa mulianya menghormati orang tua. Seperti kisah Nabi Muhammad “Rasulullah” Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam hingga akhir hayatnya beliau baginda Nabi selalu memberikan makan kepada seorang kakek tua Yahudi yang buta yang sering memakinya. Dan amalan ini dilanjutkan oleh sahabat beliau sayyidina “Abu Bakar Ash-Shiddiq” radhiyallahu ‘anhu setelah Nabi wafat.

Dikisahkan walaupun baginda Nabi Muhammad “Rasulullah” Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam dimaki, beliau baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam tetap menyuapinya bahkan memamahnya (dihaluskan) terlebih dahulu sebelum diberikan makanan kepadanya itu untuk ditelan dimakan. Semoga kita semua bisa mengambil ibroh hikmah dari kisah tersebut, kita bisa “adab” selalu menghormati orang yang lebih tua apapun agamanya.

Aamiin

Tulis sayyidina `Ali karamullahu wajhah;

“Penuhilah hati dengan kasih sayang kepada rakyat dan berbuat baiklah kepada mereka semua. Rakyat terbagi kepada dua golongan, satu golongan ialah mereka yang seagama denganmu. Dan satu golongan lagi ialah mereka yang sama-sama diciptakan Allah manusia sepertimu.”

Kutipan surat sayyidina “Ali” karamullahu wajhah kepada gubernur Mesir “Malik Asytar” saat beliau menjadi Amirul Mukminin.

@ Allah Karim yaa Salaam
Allah Hafizh

#Hafizhanallah

Sumber: Karomah Sahabat | Nur Muhammad
— Sunday, April 26, 2015

@ Allahu musta’an #MataHati
YAA ALLAH YAA HAYYU YAA QAYYUM
√ Yaa Malikul Quddus yaa Karim

Disaat Kota Madinah Dipenuhi Air Mata

Photo

CINTA BUKAN KULTUS
#Ibroh

Bismillaahirrahmaanirrahiim

@ Allah Karim

Madinah Berduka

“Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji’uun.” Air mata berderai jatuh bercucuran dipipi, bagai kristal kristal mutiara air hujan turun dari langit membasahi bumi. Langit pun berduka meratapi duka dibumi. Jenazah “RASULULLAH” Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam terbaring dikediamannya. Aisyah radhiyyallahu ‘anha dan seluruh “ahlul bait” duduk bersimpuh menahan air mata perih duka menyayat hati. Sementara itu, diluar terdengar suara “riuh” kaum muslimin. Sebagian mereka yang telah mendengar berita “MENINGGALNYA” Rasulullah Shallalluhu ‘Aalaihi Wa Sallam, tidak percaya dengan peristiwa itu.

Abu Bakar Ash Shiddiq menyeruak ditengah keramaian. Dengan cepat ia masuk kerumah Aisyah putrinya dan anak menantunya Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam sekaligus sebagai seorang sahabatnya. Aisyah radhiyallahu anha duduk disamping jasad Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam dengan “GEMETAR” dibukanya kain kapan penutup wajah Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam oleh Abu Bakar. Beliau menciumi wajah Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam. Begitu beliau mengetahui Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam benar benar telah wafat. Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, tak kuasa menahan membendung air matanya. Ia berucap dengan gemetar; “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un.” Ya Muhammad Wahai Rasulullah, Allah tidak menghimpun dua kematian pada dirimu. Sekarang engkau merasakan kematian yang telah Allah takdirkan atasmu ya Rasulullah.” haru beliau memeluk jasad Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam.

Sementara itu, diluar masih terdengar suara riuh para sahabat. Diantara kerumunan mereka, terdengar suara Umar bin Khathab yang sampai saat itu tidak percaya kalau Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam telah wafat. Dengan suara lantang ia berteriak; “TIDAK!!! Rasulullah tidak meninggal.” dengan airmata penuh di wajahnya ia berucap lagi; “Demi Allah! Barangsiapa yang mengatakan Rasulullah telah meninggal, akan kutebas batang lehernya dengan pedangku ini.” ucap beliau sambil mencabut pedangnya.

Mendengar seruan Umar itu, Abu Bakar yang masih berada disamping jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam, segera keluar menemuinya untuk menenangkan. Namun, Umar tetap pada pendiriannya, ia tidak mau percaya kalau Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam telah meninggal dunia. Ketika kaum muslimin mulai berkerumun mendekat karena ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya, Abu Bakar Ash Shiddiq segera berkata; “Barangsiapa diantara kalian yang menyembah Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam, sesungguhnya beliau telah wafat. Barangsiapa yang menyembah Allah SWT Dia Maha Hidup dan Kekal tidak mati.” Lalu beliau membaca firman Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya;

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh, kalian berpaling darinya? Barangsiapa yang berpaling, ia tidak akan bisa mendapatkan mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang orang yang bersyukur.”
(Qs. Ali Imran : 144)

Begitu mendengar ucapan Abu Bakar, para sahabat baru yakin kalau Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam benar benar telah meninggal. Mereka seolah lupa dengan ayat yang dibacanya. Umar bin Khathab langsung merasakan tubuhnya “GEMETAR!” Lututnya lemas, lalu bersimpuh berpegangan pada gagang pedang yang tadi sempat dihunusnya. Beberapa sahabat lain mengalami hal yang sama. Bahkan tak sedikit diantara mereka yang tak kuasa berdiri. Duka semakin dalam menyelimuti kota Madinah.

@ Allah yaa Kariim

Dari serangkaian peristiwa tersebut ada beberapa “ibroh” yang bisa kita jadikan pelajaran, antara lain; “PERTAMA” besarnya cinta para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam. Begitu besarnya cinta mereka, sampai sampai tak percaya kalau beliau telah wafat.

Sikap ini telah mereka tunjukkan ketika beliau Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam masih hidup menebarkan risalah. Sejarah mencatat, bagaimana Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, berusaha sekuat tenaga melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam ketika berada di goa Tsur. Bahkan kakinya beliau sempat digigit ular karena berusaha menutupi lubang untuk menjaga Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam.

Thalhah bin Ubaidaillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash bersedia menjadi “TAMENG” Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam saat perang Uhud berkecamuk. Mereka siap menghadang hujan “ribuan” anak anak panah yang melesat datangnya bertubi tubi kearah mereka.

Hal yang sama ditunjukkan oleh Hubaib bin Ady. Ketika tubuhnya berada di tiang salib, kafir Quraisy bertanya; “Hai! Hubaib, apakah engkau bersedia seandainya Muhammad menggantikan engkau ditiang salib ini, dan engkau kami bebaskan?” Dengan mantap, dia menjawab; “DEMI ALLAH! saya tidak bisa tenang bersama keluarga, seandainya Rasulullah tertusuk duri sekalipun.”

@ Masha Allah

Sikap seperti inilah yang harus dicontoh oleh kaum muslimin. Kecintaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam harus “DIAKTUALISASIKAN” dengan menjadikannya sebagai teladan dan rujukan dalam segala tindakan. Begitu pula disaat kaum muslimin mengalami perpecahan, mereka mesti mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. “Kemudian jika kamu sekalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu sekalian benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian akhir.” (Qs. An Nisa : 59)

“KEDUA” kesabaran Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu dalam mengendalikan diri. Ini juga salah satu penyebab mengapa dia terpilih sebagai Khalifah. Disaat kaum muslimin tengah dirundung duka, beliau mampu menjadi penyejuk. Dikala kaum Anshor dan Muhajirin diambang perpecahan, beliau bisa menjadi penengah. Beliau mampu meredam kemarahan Umar bin Khathab saat dimaki oleh Hubab bin Munzid dalam “tragedi” Bani Sa’idah. Beliau sanggup mendinginkan suasana yang tak menentu pasca kemangkatan Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam. Tapi, ketika muncul berbagai pemberontakan diawal ke Khalifahan pemerintahannya, dengan “TEGAS” beliau membungkamnya.

Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu diangkat sebagai Khalifah, bukan lantaran “HAUS” kekuasaan. Tapi lebih kepada “TANGGUNGJAWAB” terhadap Islam kaum muslimin dan umat. Karena itu beliau tidak takut dikritik, bahkan diturunkan dari kursi “JABATAN” pemerintahannya sekalipun. Sosok manusia yang tidak haus kekuasaan seperti inilah yang mesti dijadikan “PEMIMPIN”. Dan bukan sekedar itu, beliau juga mampu berbuat “KERAS” terhadap apa yang mesti dihadapi dengan kekerasan. Sebaliknya, beliau “LUNAK” terhadap orang yang mesti dihadapi dengan kelembutan.

Ibarat pematah Minang mengatakan; “Lambuiknyo dapek disudu, karehnyo indak dapek ditakiak.” Artinya; Lembutnya dapat dicicipi, kerasnya tak mampu dipalu. Pribahasa ini menyimbolkan seorang pemimpin yang lemah lembut. Tapi, kalau “KEPUTUSANNYA” sudah diambil, pantang ditawar.

“KETIGA” betapa pun besarnya cinta kita terhadap seseorang, tidak boleh menyebabkan “KULTUS” individu. Sikap para sahabat dalam kisah diatas perlu dicontoh. Kendati cinta mereka setinggi gunung, mengalahkan cinta terhadap keluarga dan diri sendiri, namun tidak membuat para sahabat “MENGKULTUSKAN” Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wa Sallam. Mereka tetap menempatkan beliau (Rasulullah) pada posisinya sebagai manusia dan seorang Nabi Rasul. Tidak lebih dari itu.

Jika suatu kelompok telah menempatkan idolanya pada posisi yang tidak layak, bisa menjurus keperbuatan syirik. Mereka akan menganggap semua tindakan dan ucapan sang idola adalah benar. Kalau masyarakat sudah bersikap demikian “niscaya” keadaan dipastikan akan semakin parah. Pemimpin tidak lagi menjadi “PELAYANAN” bagi masyarakat, tetapi masyarakatlah yang menjadi “BUDAK” pemimpin.

Akhirnya tak akan ada lagi yang berani mengkritik. Komunitas masyarakat tersebut akan berbuat apa saja bagi pemimpinnya. Bahkan, berani mati sekalipun untuk mempertahankan “SEGENGGAM” secuil kekuasaan.

@ Allah yaa Karim yaa Salaam

Dunia Setetes DEBU

#Hafizhanallah

@ Allahu musta’an
ALLAAHU AKBAR WA LILLAAHI ILHAM